Dibayangi Proyeksi IMF, Minyak Terkonsolidasi
JAKARTA, investor.id – Pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi turun tipis, tertekan oleh sentimen dari pernyataan IMF. Meski demikian, larangan penjualan minyak dari Cadangan Strategis AS ke Tiongkok, dan sinyal peningkatan konsumsi bahan bakar di Tiongkok memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, Dana Moneter Internasional (IMF) diperkirakan akan tetap mempertahankan proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023 di level 2.7 persen. Meskipun pertumbuhan diperkirakan akan terus melambat di 2023, namun pelambatan pertumbuhan global akan ‘keluar dari bawah’ dan ‘berbalik menjelang akhir 2023 dan memasuki 2024’, ujar direktur pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada hari Kamis (12/1/2023).
“Proyeksi dari IMF tersebut meredam kekhawatiran akan lonjakan harga minyak karena kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (13/1/2023).
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, DPR AS pada hari Kamis mengesahkan UU untuk melarang penjualan minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) ke entitas mana pun di bawah naungan Tiongkok. Data terbaru dari Departemen Energi AS menunjukkan bahwa stok minyak di SPR turun hingga menyentuh level 450 juta barel, yang sekaligus merupakan level terendah sejak 1980-an.
“Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai rencana pengisian kembali. Pengesahan UU tersebut mengindikasikan bahwa tidak akan perilisan tambahan pasokan dari AS ke Tiongkok dalam waktu dekat,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, sentimen positif lainnya datang dari sinyal peningkatan lalu lintas perjalanan Tiongkok yang turut membuat peningkatan permintaan bahan bakar di negara importir minyak utama dunia itu. Indeks kemacetan di 15 kota di Tiongkok dilaporkan telah meningkat sebesar 31% dari minggu sebelumnya, ungkap analis ANZ.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






