Gawat! Banyak Milenial Pakai Uang Kuliah dan Pinjol untuk 'Trading' Saham
JAKARTA, Investor.id - Ternyata tak semua Generasi Z dan Milenial punya pemahaman yang baik tentang berinvestasi saham. Banyak di antara mereka menggunakan uang SPP sekolah atau uang kuliah untuk membeli saham. Bahkan, tak sedikit yang menggunakan dana hasil pinjaman online (pinjol) untuk trading saham.
"Fenomena maraknya Milenial dan Generasi Z beirnvestasi saham di satu sisi positif. Tapi di sisi lain ada juga negatifnya karena tak semua Milenial dan Generasi Z punya pemahaman yag cukup untuk menjadi investor di pasar saham," ujar Founder Emtrade, Ellen May dalam acara Zooming with Primus (ZwP) bertajuk 'Fenomena Milenial Investasi Saham' yang ditayangkan secara live di Beritasatu TV, Kamis (4/2).
Acara yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan Fawzi serta mantan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI yang juga mentor Investa, Hamdi Hassyarbaini
Ellen May mengungkapkan, dalam soal investasi di pasar modal, Generasi Z dan Milenial memiliki dua karakter. Pertama adalah para anak muda yang haus ilmu, haus belajar, dan memiliki keingintahuan (curiosity) yang tinggi.
"Mereka akan tanya sampai detail tentang saham dan produk-produk pasar modal lainnya. Mereka adalah anak-anak muda yang haus ilmu. Belajarnya sangat cepat," tutur Ellen yang aktif memberikan edukasi pasar modal kepada Generasi Z dan Milenial.
Peran anak-anak muda tersebut, kata Ellen, sangat positif terhadap perkembangan pasar modal domestik. Dengan memiliki pemahaman yang cukup, mereka akan turut berkontribusi terhadap perkembangan pasar modal yang sehat, kuat, dan berkelanjutan. Sebab, mereka akan ikut mendorong terciptanya harga saham yang transparan dan adil, sesuai fundamental emiten.
Uang SPP dan Pinjol
Tetapi, menurut Ellen May, ada pula Generasi Z dan Milenial yang punya sisi karakter lain. Mereka ingin investasi di pasar saham dengan menambil jalan pintas. Misalnya menggunakan uang SPP sekolah atau uang kuliah untuk investasi saham secara harian (trading).
"Bahkan, ada yang sampai meminjam ke fintech atau pinjol (pinjaman online) untuk membeli saham secara trading. Begitu harga sahamnya jatuh atau nyangkut, mereka menyalahkan sekuritas, emiten, atau para influencer," papar dia.
Ellen May menegaskan, Generasi Z (lahir 1997-2012) dan Milenial (lahir 1981-1996) yang punya karekter 'jalan pintas' harus terus-menerus diberi edukasi dan sosialisasi oleh segenap pemangku kepentingan (stakeholders) pasar modal. Misalnya uang untuk berinvestasi saham harus benar-benar uang nganggur (idle), di luar kebutuhan primer. Berinvestasi di pasar modal juga harus dibekali pengetahuan technical dan fundamental.
"Ini tugas kita semua, khususnya Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan edukasi demi terciptanya pasar modal domestik yang sehat, kuat, dan berkesinambungan," tandas dia.
Ellen menambahkan, generasi Z dan Milenial harus paham bahwa berivestasi di pasar saham harus punya bekal ilmu dan pemaaman yang cukup agar tidak terjebak atau termakan oleh ulah para pompomer (penggoreng saham) yang saat ini marak.
"Saya selalu tekankan kepada mereka bahwa kalau kita rugi di pasar saham bukan salah yang pompom atau pihak-pihak lainnya, tetapi salah kita. Sebab pada ahirnya, yang mengambil keputusan jual atau beli adalah kita sendiri. Kalau kita belajar, kita tidak akan terkena pompom," tegas dia.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

