Harga Komoditas Turun, Saham-Saham Nikel Berguguran
Di sisi lain, tertekannya harga nikel menurut dia, saat ini dipengaruhi kelebihan pasokan stainless steel secara global. “Tetapi sebenarnya ketika suplai meningkat, nanti akan tercipta permintaan yang meningkat juga, ditambah kebutuhan teknologi EV secara global, prospeknya positif jangka panjang,” ujar Nafan kepada Investor Daily.
Optimisme ini diyakini terjadi pada saham di bisnis berbasis nikel karena komoditas ini dinilai strategis, sebagai salah satu sumber daya alam yang banyak dimiliki Indonesia.
Nafan melihat, pemerintah terus berkomitmen menjalankan hilirisasi dengan mendorong pengembangan smelter untuk meningkatkan produksi nikel dalam negeri. Mirae Sekuritas Indonesia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang melarang ekspor nikel mentah.
Dengan begitu, dia tidak menganggap isu pemotongan insentif pajak pada investasi nikel kualitas rendah sebagai dalang merosotnya harga saham nikel. “Pemerintah justru memberi insentif berupa tax holiday kepada perusahaan nikel yang menciptakan ekosistem berbasis EV dalam negeri dan punya nilai tambah sehingga mendorong percepatan hilirisasi,” sambung dia.
Khusus harga saham INCO, menurut analisis teknikal Nafan, trennya masih naik atau sangat bagus dengan target harga Rp 7.600 sehingga layak dipertimbangkan untuk akumulasi.
Sementara, untuk MBMA dan NCKL, Nafan melihat pergerakan sahamnya mengalami bearish consolidation. Sehingga investor disarankan bersikap wait and see sambil menanti net positive price action selanjutnya.
Optimistis
Merespons isu tersebut, Chief Financial Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengaku optimistis harga nikel akan kembali naik. Menurut analisis perusahaan, harga nikel dipercaya tidak akan turun di bawah US$ 20.000 per ton berdasarkan kondisi pasar saat ini.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






