Tertekan Banyak Sentimen Negatif, Harga SUN Diproyeksikan Kembali Melemah
JAKARTA, investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) pekan depan diproyeksikan alami pelemahan akibat tertekan banyak sentimen negatif. Salah satunya aksi taking profit oleh para investor asing. Imbal hasil untuk tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada rentang 6,25%-7,35%.
Analis Fixed Income PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin memperkirakan yield akan cenderung naik di pekan depan, seiring dengan beberapa aksi taking profit oleh investor asing menjelang keputusan the Fed pada 13-14 Juni 2023 mendatang dan memanfaatkan kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, lanjut dia, survei terbaru juga menunjukkan pasar mengantisipasi kenaikan lebih lanjut pada suku bunga the Fed di tengah tingkat inflasi PCE dan tingkat pengangguran yang masih membandel atau sulit untuk bergerak menuju target.
“Sehingga, menjelang rapat tersebut, saya memperkirakan aksi spekulatif akan cenderung meningkat dengan setiap peluang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) akan memberi sentimen negatif bagi pasar SUN,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Selain dari global, Ahmad menuturkan dalam jangka pendek kondisi perekonomian dapat stabil di tengah penurunan inflasi. Pasar juga akan mencermati data dari BPS yang akan merilis data inflasi pada Senin (5/6/2023). Sementara itu, data cadangan devisa akan dirilis pada Jumat (9/6/2023).
“Kami mengharapkan kedua indikator tersebut akan berada pada level yang baik, di mana tingkat inflasi kembali melandai dan cadangan devisa tetap besar,” ujar dia.
Adapun Ahmad memproyeksikan yield 10 tahun di pekan depan akan bergerak di kisaran 6,25% - 7,35%. Lebih lanjut, pada Selasa 6 Juni 2023 mendatang, pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara. Sebanyak 6 seri yang akan masuk dalam lelang tersebut dengan target indikatif Rp 9 triliun.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






