Ada yang Terus Tadah Saham Merdeka Battery, Orangnya Itu-itu Juga
JAKARTA, Investor.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melalui PT Merdeka Energi Nusantara terus menadah saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Alhasil, saham ini mampu bangkit menembus Rp 800, setelah sebelumnya ambles ke Rp 750 atau di bawah harga IPO Rp 795.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (16/6/2023), Merdeka Energi Nusantara membeli 6,4 juta saham MBMA. Alhasil, kepemilikan saham perusahaan itu di MBMA naik menjadi 49,75% per 13 Juni 2023 dari sebelumnya 49,74%.
Merujuk data RTI, saham MBMA naik 3,23% dalam sepekan terakhir dan 3,87% dalam sebulan terakhir.
Sebelumnya, Merdeka Copper resmi masuk ekosistem mobil listrik (electric vehicle/EV), setelah anak usahanya, MBM, mengakuisisi 60% saham di PT Huaneng Metal Industry (HNMI). Nilai transaksi ini mencapai US$ 75 juta.
Berdasarkan materi presentasi Merdeka tentang kinerja kuartal I-2023, HNMI memiliki fasilitas converter low grade nickel matte (LGNM) menjadi high grade nickel matte (HGNM) yang sudah beroperasi, dengan kandungan nikel di atas 70%. Jumlah itu di atas kandungan nikel produk nickel pig iron (NPI) yang diproduksi tiga anak usaha MBM, yakni PT Cahaya Smelter Indonesia (CSI), PT Bintang Smelter Indonesia (BSI), dan Zhao Hui Nickel ZHN.
Nikel matte adalah produk nikel antara yang dapat diolah menjadi nikel sulfat, material (prekursor) kutub positif (katoda) baterai EV, selain kobalt sulfat, lithium, mangan/aluminium.
“Dengan mengakuisisi converter nikel matte, MBM bisa mendapatkan tambahan arus kas dan margin, lantaran menjual produk dengan kandungan nikel lebih tinggi, yakni nikel matte,” tulis manajemen Merdeka, dikutip Senin (14/6/2023).
Sesuai rencana, MBM akan memodifikasi smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) CSI, BSI, dan ZHN untuk menghasilkan LGNM. Selanjutnya, produk itu dipasok ke HNMI untuk dijadikan HGNM. Kapasitas produksinya mencapai 50 ribu ton per tahun.
Di luar proyek itu, Merdeka melalui MBM memiliki rencana besar untuk membangun smelter dengan teknologi high pressure acid leach (HPAL) yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) di Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), Sulawesi Tenggara. Pabrik ini akan mengambil nikel limonit dari tambang PT Sulawesi Cahaya Mining (SCM) milik MBM yang lokasinya dengan dengan IKIP. SCM memiliki tambang nikel dengan sumber daya terbesar di dunia, yakni 1,1 miliar ton bijih.
Tahap I, kapasitas produksi smelter HPAL MBM ditargetkan mencapai 60 ribu ton per tahun dengan investasi US$ 1,28 miliar. MBM menargetkan menguasai 66% saham proyek HPAL tahap I. Rencananya, MBM akan membangun dua pabrik HPAL dengan total kapasitas 240 ribu ton per tahun.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






