Harga Minyak Menguat, Didukung Pengurangan Produksi Arab Saudi
JAKARTA, investor.id - Harga minyak mentah menguat ke level US$ 81,73 per barel pada Selasa pagi (1/8/2023). Didukung tanda-tanda pengetatan pasokan global dan meningkatnya permintaan sepanjang sisa tahun ini.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Arab Saudi diperkirakan akan memperpanjang pengurangan produksi minyak sukarela sebesar 1 juta barel per hari (bpd) untuk satu bulan lagi hingga termasuk September.
“Perlu diingat bahwa pada sebelumnya, Arab Saudi berjanji untuk memangkas produksi sebesar 1 juta barel per hari pada Juli sebagai bagian dari kesepakatan OPEC+ pada Juni yang membatasi pasokan hingga 2024,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (1/8/2023).
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, produksi Saudi turun 860 ribu barel per hari (bpd) pada Juli, sementara total produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak lebih rendah 840 ribu bpd menjadi 27,34 juta bph. Selain itu, dalam berita yang beredar terdapat penurunan besar yang terjadi di Nigeria di mana Shell menangguhkan pemuatan minyak mentah Forcados karena potensi kebocoran di terminal ekspor.
“Output Libya beringsut lebih rendah karena penghentian singkat di beberapa lapangan karena protes,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Dari segi permintaan, Tim Research and Development ICDX menambahkan, Tiongkok sebagai salah satu konsumen terbesar minyak mentah mencatatkan aktivitas bisnis melambat, Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok mengungkapkan pada hari Senin bahwa Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur meningkat menjadi 49,3 pada bulan Juli, meningkat dari 49,0 pada bulan Juni dan perkiraan pasar sebesar 49,2.
Namun, Tim Research and Development ICDX menilai angka tersebut tercatat di bawah 50 selama empat bulan berturut-turut, menunjukkan zona kontraksi. Sementara itu, NBS Services PMI turun dari 53,2 di bulan Juni menjadi 51,5 di bulan Juli. Data yang mengecewakan memicu kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82,43 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 79,20 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler






