Minyak Anjlok Lebih dari 1%, Tertekan Ekspektasi Kesepakatan Venezuela
HOUSTON, investor.id - Harga minyak anjlok lebih dari 1% pada Senin (16/10/2023). Tertekan meningkatnya ekspektasi Amerika Serikat (AS) dan Venezuela akan segera mencapai kesepakatan yang meringankan sanksi terhadap ekspor minyak mentah Venezuela. Sementara itu, traders mengatakan konflik Israel-Hamas tampaknya tidak menimbulkan ancaman pasokan minyak dalam jangka pendek.
Dikutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent terpangkas US$ 1,24 (1,4%) menjadi US$ 89,65 per barel. Sedangkan Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$ 1,03 (1,2%) menjadi berakhir pada US$ 86,66 per barel.
Baca Juga:
PIS Sudah Punya 97 Armada KapalPemerintah dan oposisi Venezuela akan kembali melakukan perundingan politik minggu ini setelah hampir satu tahun, kata kedua belah pihak. Sementara sumber mengatakan AS telah mencapai kesepakatan awal untuk meringankan sanksi terhadap industri minyak Venezuela dengan imbalan pemilihan presiden Venezuela yang kompetitif dan diawasi pada tahun depan.
William Jackson, kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics, mengatakan, kesepakatan yang dilaporkan akan membantu meningkatkan produksi minyak negara itu dari tingkat yang sangat tertekan.
“Tetapi sektor ini memerlukan investasi yang sangat besar untuk mengembalikan produksi ke tingkat yang dicapai satu dekade lalu. Hal ini tidak akan berdampak signifikan terhadap defisit pasar minyak global dalam waktu dekat,” tambah Jackson.
Kedua harga minyak acuan tersebut melonjak pekan lalu di tengah kekhawatiran konflik di Timur Tengah dapat meluas. Dengan harga minyak acuan global Brent naik 7,5% yang merupakan kenaikan mingguan tertinggi sejak Februari.
Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, menyebut, penurunan harga pada Senin tampaknya menjadi ‘istirahat sejenak untuk menghadapi peristiwa di Timur Tengah’. Dibandingkan dengan perkiraan peningkatan produksi di Venezuela.
“Negosiasi dengan Venezuela dapat menyebabkan lonjakan ekspor minyak mentah yang sudah tersedia. Tetapi lonjakan produksi masih merupakan sebuah jalan keluar mengingat kondisi infrastruktur energi Venezuela yang sudah tua,” kata Lipow.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






