Jumat, 15 Mei 2026

Sido Muncul (SIDO) Beri Kisi-kisi Dividen

Penulis : Muawwan Daelami
15 Mar 2024 | 14:48 WIB
BAGIKAN
Peserta operasi sumbing gratis dari Sido Muncul
Peserta operasi sumbing gratis dari Sido Muncul

JAKARTA, investor.id – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) menggaransi bakal mempertahankan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) di atas 85%. Jika mengambil patokan minimal 85% saja, maka emiten jamu modern tersebut berpotensi menebar dividen di kisaran Rp 808 miliar dari perolehan laba bersih tahun buku 2023 sebesar Rp 950 miliar.

Investor Relation Manager SIDO Stephanie Setiawan mengungkapkan bahwa perseroan akan menjaga dividend payout ratio di atas 85%. “Jadi, untuk tahun buku 2023, kami sudah sempat membagikan dividen interim pada November 2023 sebesar Rp 12,6 per saham atau sekitar Rp 370 miliar dengan payout ratio di kisaran 84-85%,” ujar Stephanie di acara PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Kamis (14/3/2024).

Sementara untuk dividen finalnya, lanjut dia, perseroan akan memutuskannya dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST). Hanya saja, SIDO belum menetapkan kapan RUPST akan dilangsungkan setelah manajemen perseroan mengundur jadwal RUPST yang semula ditetapkan pada Rabu (3/4/2024).

ADVERTISEMENT

Menurut Stephanie, mundurnya jadwal RUPST tersebut karena berkaitan dengan administrasi internal SIDO yang harus melakukan submission laporan keberlanjutan tahunan (annual sustainability report) sebelum RUPST.

Kinerja Tumbuh 10%

Selain rencana pembagian dividen, tahun ini emiten bersandi saham SIDO tersebut juga membidik kinerja baik top line maupun bottom line bertumbuh sebesar 10% dengan tetap menjaga margin di sisi laba bersih.

Karena itu, guna mendongkrak performa pada tahun ini, perseroan juga berencana melakukan penetrasi pasar di luar Jawa. Mengingat, sejauh ini mayoritas atau sekitar 70% pendapatan perseroan masih terkonsentrasi di Jawa.

“Jadi, kami berusaha melakukan penetrasi di luar Jawa. Ada banyak tantangan terkait dengan daya beli di luar Jawa yang relatif lebih soft dibandingkan di Jawa. Selain itu, dari sisi taste perception juga mungkin banyak yang di luar Jawa, tidak terlalu suka dengan rasa dan sebagainya,” ungkap Stephanie.

Untuk menyiasatinya, SIDO pun meluncurkan inovasi produk untuk menjawab kebutuhan pasar di luar Jawa. Ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi pasar di luar Jawa yang perlu dieksplor. Belum lagi, ketika ibu kota resmi pindah ke Kalimantan yang tentu akan menciptakan pertumbuhan pasar baru di sana.

Perkuat Ekspor

Di samping melakukan ekspansi di pasar luar Jawa, SIDO juga akan memperkuat pasar ekspor terutama di Malaysia, Nigeria, dan Filipina. Ketiga negara tersebut potensial karena banyak pelanggan yang mencari produk Sido Muncul.

Untuk Malaysia, Stephanie menjelaskan, produk Sido Muncul yang diminati di sana di antaranya produk energy drink seperti Kuku Bima Energi. Adapun produk Tolak Angin relatif di bawah Kuku Bima.

“Jadi, kami ada rencana ekspansi di Malaysia ini dengan merambah area-area baru seperti Sabah dan Sarawak dengan menggandeng distributor kami di sana. Karena kebetulan di Sabah dan Sarawak merupakan area plantation. Jadi, ada banyak plantation worker sehingga kami masuk dengan produk Kuku Bima Energi,” ucap Stephanie.

Lebih jauh, SIDO juga akan merambah ke pasar Nigeria karena populasi penduduk di sana cukup besar dan masyarakat Nigeria merupakan penikmat produk energy drink yang cukup besar. Tak heran, permintaan terhadap produk Kuku Bima Energi di san cukup tinggi.

Kendati demikian, ungkap Stephanie, Nigeria merupakan negara dengan risiko bisnis yang cukup tinggi. Ini tercermin dari mata uang mereka yang terdepresiasi sekitar 70%. Karenanya, mulai tahun ini transaksi perseroan di sana akan menggunakan mata uang Dollar Amerika agar lebih stabil.

“Dan secara payment dilakukan in advance sebelum melakukan bahkan sebelum kita produksi barangnya, mereka harus sudah membayar terlebih dahulu. Cuma kalau secara demand masih sangat bagus di Nigeria,” tutur dia.

Negara terakhir yang diperkuat ekspornya adalah Filipina. Menurut Stephanie, pasar Filipina memiliki kemiripan dengan pasar di Indonesia dengan Tolak Angin dan Tolak Angin Care sebagai produk populernya.

“Jadi, dari sisi penerimaan consumer cukup baik dan market cukup baik di sana dan kebetulan di Juli 2023, kami menambah distributor baru untuk merambah pasar yang lebih luas lagi. Distributor ini cukup besar di Filipina dengan sekitar 50 ribu outlet yang baru kami utilisasi sekitar 20 ribu outlet. Jadi, ruang untuk tumbuh di Filipina masih cukup besar,” paparnya. Ke depan, perseroan menargetkan kontribusi porsi ekspor terhadap total pendapatan dapat meningkat di atas 10% dari porsi saat ini sebesar 6%.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 10 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 42 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 53 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 57 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia