Banjir Sentimen Negatif, Imbal Hasil SUN Kembali Naik
JAKARTA, investor.id – Pekan ini, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) diprediksi kembali naik. Dengan kupon SUN tenor 10 tahun yang diproyeksikan bergerak pada kisaran 6,4-7,0%, cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan akhir pekan sebelumnya. Hal ini karena banjirnya sentimen negatif.
Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Ahmad Nasrudin menjelaskan, pasar surat utang diwarnai dengan sentimen negatif, mulai dari data kenaikan non-farm payroll Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan mengalami perlambatan, sementara tingkat pengangguran masih diperkirakan tetap pada 3,9% dan membuka ruang spekulasi lebih jauh.
“Selain itu, perkembangan inflasi di Zona Euro yang diperkirakan masih tetap di angka 2,6% juga memberikan tekanan yang sama terhadap pasar,” ungkapnya kepada Investor Daily, Minggu (31/3/2024).
Ahmad menambahkan, pasar tengah menantikan risalah pertemuan European Central Bank (ECB) pada bulan Maret 2024 yang akan segera rilis dalam waktu dekat. Rilis itu nantinya akan berisi soal petunjuk soal penurunan suku bunga yang diidam-idamkan oleh para investor. Sedangkan dari China, perhatian investor akan tertuju pada rilis data PMI komposit (manufaktur dan jasa).
“Sementara dari India, perkiraan Bank of India yang masih akan menahan suku bunga pada 6,5% seiring inflasi yang masih tetap di bawah rentang atas dan tekanan pada Rupee yang terjadi juga akan diawasi oleh pasar,” jelasnya kepada Investor Daily, Minggu (31/3/24).
Dengan kondisi tersebut, asing kemungkinan masih akan berspekulasi untuk membuat harga terdiskon menjadi cukup rendah sebelum memutuskan untuk kembali masuk. Karena asing memanfaatkan ketidakpastian eksternal yang masih tinggi, tekanan pada rupiah seiring dengan menipisnya surplus dagang, serta puncak musiman inflasi selama Ramadan dan Idulfitri.
Ahmad menyampaikan, pasar domestik mengalami bearish mendatar di pekan lalu di mana yield jangka pendek naik lebih tinggi daripada yield jangka panjang. Yield 2 tahun naik menjadi 6,428% atau naik 6 bps, sementara yield 10 tahun naik menjadi 6,693% atau bertambah 4 bps. Kenaikan terjadi setelah asing membukukan jual bersih mingguan yang cukup besar, mencapai Rp 8,90 triliun, yang mana sebagian besar terjadi pada awal pekan lalu mencapai Rp 5,28 triliun.
“Dengan demikian, secara keseluruhan, pada Maret 2024 asing membukukan jual bersih sebesar Rp 20 triliun,” paparnya.
Namun demikian, Ahmad menambahkan, efeknya terhadap kenaikan yield relatif terbatas, hanya naik dari 6,61% di akhir Februari 2024 menjadi 6,69% di akhir Maret 2024 karena permintaan domestik dan fundamental domestik relatif solid. “Selain itu, porsi asing juga sudah jauh berkurang, sekarang asing memegang sekitar 15% dari total outstanding di pasar sekunder. Dengan demikian, aksi jual mereka tidak berdampak signifikan pada kenaikan yield,” ujar dia.
Hal ini, tambahnya, juga tentu berdampak pada obligasi dengan tenor yang paling banyak diminati yakni 10 tahun yang diperkirakan bergerak pada tenor 6,4% sampai dengan 7,0%, lebih tinggi dari pekan lalu. Kondisi tersebut diperkirakan bertahan selama satu bulan kedepan, lantaran hadirnya tekanan dari pasar domestik yang memasuki siklus musiman kenaikan inflasi yang lumrah terjadi pasca lebaran yang menjadi sentimen negatif bagi pasar surat utang.
Terlebih lagi, beberapa waktu terakhir ini juga menghadapi kenaikan harga bahan pokok, seperti beras yang diperkirakan akan membuat komponen inflasi volatile food masih tetap tinggi. “Oleh karena itu, berkaca pada kondisi ini, kami mengasumsikan tekanan di Maret 2024 kemungkinan masih akan berlanjut di April 2024,” kata dia.
Namun demikian, Ahmad berharap pasar akan kembali membaik ketika harga sudah terdiskon cukup dalam sehingga menarik asing kembali masuk. Sebab, pasar domestik menawarkan premi yang cukup tinggi dibandingkan dengan beberapa negara berperingkat di sekitar BBB seperti Filipina dan Thailand.
“Selain itu, sebelum siklus pemangkasan dimulai, investor domestik kemungkinan masih akan memburu surat utang berkupon tinggi saat ini sebelum menjadi semakin langka seiring dengan pelonggaran moneter,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






