Harga Nikel Bisa Lampaui Perkiraan, Vale (INCO) Paling Diuntungkan
Dengan kenaikan harga nikel dan kemampuan Vale Indonesia mengelola biaya produksi, maka emiten berkode saham INCO tersebut diyakini berada dalam posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan.
“Kami mungkin akan menaikkan estimasi pendapatan INCO hingga 20% setelah menilai kinerja kuartal I-2024. Rekomendasi terakhir kami untuk saham INCO adalah trading buy dengan target harga Rp 4.500,” jelas Rizkia.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas sebelumnya mematok target harga saham INCO sebesar Rp 5.500, dengan rekomendasi buy. Selain INCO, rekomendasi yang sama juga disematkan pada saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam.
“Urutan preferensi kami untuk saham emiten nikel adalah NCKL, INCO, HRUM, dan ANTM,” tulis Mandiri Sekuritas dalam risetnya. Adapun target harga saham NCKL sebesar Rp 1.150, HRUM Rp 1.600, dan ANTM Rp 2.000.
Menurut perusahaan efek tersebut, ekspansi perusahaan nikel ke smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL) untuk penyediaan bahan baku baterai kendaraan listrik membuka peluang pertumbuhan baru, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap industri baja tahan karat (stainless steel).
Norilsk Nickel memperkirakan permintaan nikel global meningkat 9% (yoy) menjadi 3,4 juta ton pada 2024, yang bakal didorong oleh industri baterai kendaraan listrik. Pasokan nikel juga diprediksi meningkat 6% (yoy) menjadi 3,6 juta ton pada tahun ini. Dengan demikian, terdapat potensi surplus nikel sebanyak 190 ribu ton.
Surplus nikel bakal dipicu oleh peningkatan produksi nickel pig iron (NPI) kadar rendah dan nikel matte dari konversi NPI serta operasional smelter baru HPAL di Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia menjadi penggerak utama pasokan nikel global seiring pembangunan smelter RKEF secara masif sejak pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel pada 2014.
Bloomberg memperkirakan, produksi nikel olahan Indonesia meningkat 51% (yoy) menjadi 1,8 juta ton pada 2023. Tahun ini diprediksi meningkat 28,3% (yoy) menjadi 2,3 juta ton, yang mewakili 52% produksi nikel olahan global.
Adapun menurut Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, total kapasitas pengolahan nikel yang beroperasi di Indonesia mencapai 2,2 juta ton per tahun, dimana 860.000 ton kapasitas sedang dibangun dan 659.000 ton kapasitas dalam tahap perencanaan.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






