HMSP Mau Lewat, GGRM Minggir Dulu
Sementara itu, kenaikan upah minimum yang lebih rendah, rata-rata di bawah 5% dibandingkan 2023 yang sebesar 7,5%, bakal membatasi pertumbuhan volume penjualan. Sebab rata-rata kenaikan harga sigaret kretek mesin (SKM) perlu mencapai 9% untuk mengimbangi kenaikan cukai.
Minimnya kenaikan harga untuk mendukung pertumbuhan volume penjualan perusahaan rokok dapat menekan GPM. Perusahaan tembakau diperkirakan bakal lebih fokus pada profitabilitas, karena posisi GPM yang lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi. “Kami memproyeksikan volume penjualan akan datar atau turun akibat aksi downtrading,” jelas RHB.
Meski begitu, RHB lebih menyukai HMSP karena eksposur lebih besar pada sigaret kretek tangan (SKT). “Saat ini, HMSP merupakan pilihan yang lebih baik bagi investor karena eksposurnya lebih tinggi di segmen SKT, yang menyumbang 30% terhadap total pendapatan HMSP. Sedangkan GGRM kurang dari 10%,” ungkap RHB.
Adapun peralihan ke SKT yang lebih murah akan menguntungkan HMSP dan dapat mempertahankan pertumbuhan volume yang datar, meski terjadi penurunan di industri. Untuk industri tembakau, RHB mempertahankan rating netral, dengan HMSP sebagai saham pilihan teratas. Rekomendasi untuk saham HMSP adalah buy. Target harganya dipatok Rp 970.
Hingga berita ini ditayangkan, saham HMSP bertengger pada harga Rp 695. Dengan demikian, potensi cuan saham HMSP masih tebal, hampir 40%.
Risiko penurunannya jika daya beli lebih lemah dari perkiraan, perdagangan rokok ilegal di kota tier-2, dan harga tembakau yang lebih tinggi. Namun, apabila daya beli konsumen lebih baik berkat pendapatan yang lebih tinggi dan inflasi lebih rendah, itu akan menjadi katalis positif.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






