Begini Strategi Ekspansi dan Investasi Harita Nickel (NCKL)
Tahun ini, NCKL telah mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1 triliun. Hingga kuartal I-2024, sekitar 20% dari anggaran tersebut telah direalisasikan untuk kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel. Meskipun harga nikel mengalami penurunan, perusahaan berhasil meningkatkan laba kotor menjadi Rp 1,62 triliun dari Rp 1,57 triliun tahun ke tahun dan laba usaha menjadi Rp 1,39 triliun dari Rp 1,36 triliun.
Keberhasilan itu juga didukung oleh efisiensi operasional yang menekan beban penjualan, umum, dan administrasi turun menjadi Rp 373,55 miliar.
"Soal target pendapatan dan laba 2024, hal itu akan sangat bergantung pada harga nikel dunia yang ditentukan oleh mekanisme pasar. Namun, perusahaan berkomitmen untuk tetap efisien dan menjadi produsen nikel dengan biaya terendah," jelas dia.
Tahun ini, NCKL menargetkan produksi feronikel sebesar 120 ribu ton kandungan nikel dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di tahun 2024. Dua smelter RKEF, Megah Surya Pertiwi (MSP) dengan kapasitas terpasang 25 ribu ton dan Halmahera Jaya Feronikel (HJF) dengan kapasitas terpasang 95 ribu ton, menjadi tulang punggung produksi feronikel.
Baca Juga:
HMSP Mau Lewat, GGRM Minggir DuluUntuk produk MHP, Halmahera Persada Lygend (HPL) memiliki kapasitas terpasang 55 ribu ton dan Obi Nickel Cobalt (ONC) dengan kapasitas terpasang 65 ribu ton.
“Produksi MHP Harita Nickel (NCKL) akan meningkat seiring dengan pengoperasian tiga jalur produksi MHP sepanjang 2024,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






