GOTO Kecewakan Investor, tapi Ada Satu Cara untuk Kembali Meraih Kepercayaan
JAKARTA, investor.id – Para investor tampaknya marah dan kecewa berat terhadap PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), begitu kata mantan dirut Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud.
“Saya berdiskusi panjang dengan beberapa teman ritel yang memiliki saham GOTO dalam portofolio mereka. Sebagian besar marah semata karena harga saham yang terus turun sampai mentok di gocap. Wajar dan saya tak ingin komentar. Ada sebagian kecil yang kecewa karena kerugian besar yang diderita GOTO akibat pelepasan Tokopedia,” tulis Hasan Zein dalam postingan-nya di Facebook, yang dikutip pada Senin (8/7/2024).
Divestasi Tokopedia, dalam pandangan Hasan Zein, adalah koreksi kesalahan masa lalu – seperti mengorek luka lama yang bikin perih. Akuisisi Tokopedia dari sudut pandang mana pun terbilang overvalued.
“Saya tak ingin berprasangka, seperti seorang teman saya, bahwa akuisisi itu punya motif menaikkan aset menyongsong IPO. Faktanya memang demikian. Akuisisi Tokopedia menaikkan aset GOTO lebih dari Rp 100 triliun. Lebih dari Rp 90 triliun muncul di neraca GOTO sebagai goodwill. Pada saat yang sama, konsolidasi GTV (gross transaction value) juga meningkat tajam,” sebut Hasan Zein.
Penulis buku Strategi Andal Investasi di Pasar Modal dan Acuan Meraup Cuan di Pasar Modal itu mengatakan bahwa koreksi memang menyakitkan, tapi perlu untuk perbaikan. “Divestasi Tokopedia mengharuskan GOTO membebankan sisa goodwill yang belum diamortisasikan menjadi biaya. Menambah kerugian bersih 2023 sebesar Rp 86 triliun,” tutur Hasan.
Salah satu tokoh pasar modal Indonesia itu menegaskan, hanya ada satu cara untuk kembali meraih kepercayaan investor, yaitu GOTO – setelah reorientasi bisnis dan restrukturisasi – mampu menunjukkan bahwa perusahaan bisa menciptakan laba.
“Sesuatu yang dalam prospektus IPO pun dianggap nyaris mustahil dicapai dalam satu dekade. Sekaligus, ini membuktikan bahwa langkah yang diambil GOTO merupakan koreksi ke jalan yang benar!” pungkas dia.
Hasan juga menyebut ini sebagai pertaruhan reputasi. Dalam daftar pemegang saham GOTO, ada Taobao (Alibaba) dan SVF GT Subco (Softbank). “Nama besar lain seperti Indonesia Investment Authority (INA), Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Astra, dan Telkomsel boleh jadi tergabung dalam masyarakat non warkat,” kata dia.
Di jajaran komisaris, ada Agus Marto dan John Prasetio. Komando pengelola dipegang oleh ‘visioner bisnis cemerlang’ Patrick Sugito Walujo.
Mengapa Saham GOTO Turun Tajam?
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






