Saham Tiga Emiten Batu Bara Terlalu Murah, Saatnya Kembali Menambang Cuan
JAKARTA, investor.id – Pasar terlalu pesimistis terhadap sektor batu bara, setelah normalisasi harga batu bara dari level tertingginya pada 2022. Padahal, prospek batu bara membaik dan kembali memberikan peluang bagi investor, terutama dari saham-saham batu bara yang kini terlalu murah harganya.
“Kami memprediksi harga batu bara cenderung resilient dan bertahan pada kisaran US$ 130-135 per ton pada 2024-2025 dibandingkan year to date (ytd) yang sebesar US$ 132 per ton,” tulis Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren dan Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Hendriko Gani dalam risetnya.
Sementara itu, estimasi konsensus mengenai kinerja emiten batu bara merefleksikan proyeksi harga batu bara pada kisaran US$ 118-126 per ton. Itu berarti konsensus berekspektasi bahwa harga batu bara akan melemah ke depannya.
“Dengan pandangan yang lebih optimis, kami memperkirakan estimasi laba bersih emiten batu bara yang lebih tinggi 5-30% dibandingkan konsensus,” sebut Edi dan Hendriko.
Tesis Stockbit bahwa harga batu bara akan cenderung resilient didasari oleh analisis International Energy Agency (IEA) yang memproyeksikan bahwa penurunan permintaan pada 2023-2026, dengan tingkat pertumbuhan per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar -0,8%, bakal diimbangi penurunan produksi dengan CAGR -1,3% selama periode 2023-2026.
Dalam jangka yang lebih panjang, potensi peningkatan kebutuhan listrik dari kendaraan listrik (electric vehicle/EV), data center, dan AI di tengah perlambatan transisi energi ke EBT akan memperpanjang relevansi batu bara dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Di tingkat korporasi, setelah menikmati windfall profit dari supercycle batu bara pada 2022-2023, posisi keuangan para emiten batu bara menjadi jauh lebih kuat. Jika memperhitungkan net cash yang berlimpah, valuasi emiten batu bara saat ini sangat murah.
Edi dan Hendriko mengungkapkan bahwa tiga emiten batu bara, yaitu PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki net cash yang berlimpah.
Per kuartal I-2024, net cash ADRO mencapai US$ 1,8 miliar atau Rp 28,6 triliun, ITMG sebesar US$ 868 juta atau Rp 13,8 triliun, dan PTBA senilai US$ 231 juta atau Rp 3,7 triliun.
“Kami memprediksi kuatnya neraca keuangan tiga emiten tersebut bakal berlanjut ke depannya, seiring ekspektasi kinerja laba bersih yang masih solid dan tergolong tinggi secara historis,” jelas Edi dan Hendriko.
Pilihan Teratas dan Harga Wajar
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






