Harga Emas Pulih Pasca Iran Balas Israel, Bakal Lanjut?
JAKARTA, investor.id - Harga emas pulih dan diperdagangkan di kisaran US$ 2.660 per ons pada Selasa (1/10/2024). Setelah serangan rudal balistik Iran ke Israel. Apakah pemulihan harga emas ini bakal berlanjut?
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha menyebutkan, harga emas berpotensi melanjutkan tren bullish dalam waktu dekat. Berdasarkan indikator teknis Moving Average yang terbentuk saat ini, terlihat bahwa momentum bullish kembali menguat pada harga emas.
“Harga emas berpotensi naik hingga US$ 2.680 per ons dalam perdagangan hari ini. Namun, jika terjadi pembalikan arah atau reversal, emas dapat mengalami koreksi dan turun menuju target terdekat di US$ 2.650 per ons,” ungkap Andy dalam risetnya, Rabu (2/10/2024).
Menurut Nugraha, konflik yang semakin memanas di Timur Tengah memainkan peran penting dalam pergerakan harga emas. Setelah serangan rudal dari Iran ke Israel sebagai bentuk pembalasan atas agresi Israel di Lebanon, ketegangan semakin memuncak.
Iran menembakkan lebih dari 180 rudal balistik, yang menurut Korps Garda Revolusi Iran adalah tindakan balasan terhadap pembunuhan para pemimpin militan yang didukung Iran, Hizbullah. Meski serangan ini tidak menimbulkan korban di pihak Israel, ketegangan yang meningkat tetap mempengaruhi pasar keuangan global.
Dalam situasi ini, lanjutnya, emas kembali menjadi aset yang diincar oleh investor sebagai perlindungan dari ketidakpastian geopolitik. Kenaikan harga emas ini sejalan dengan lonjakan indeks dolar AS, yang mengalami kenaikan tajam sekitar 0,5% dalam semalam menjadi 101,2, tertinggi sejak 25 September.
“Kenaikan dolar ini juga didukung oleh data lowongan pekerjaan di AS yang lebih kuat dari perkiraan, memberikan dorongan tambahan bagi aset safe haven seperti emas,” papar Nugraha.
Ekonomi Global
Namun, Nugraha juga mengingatkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah sangat tidak dapat diprediksi. Jika ketegangan mereda dan tidak ada eskalasi lebih lanjut, sentimen pasar bisa pulih kembali, dengan fokus bergeser pada kondisi ekonomi global.
Nugraha menyebut, beberapa peristiwa penting yang dapat mempengaruhi sentimen pasar termasuk debat wakil presiden Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan hari ini antara Demokrat Tim Walz dan Republik JD Vance, serta rilis data penggajian swasta AS.
Secara teknis, Andy Nugraha menyebut, pergerakan harga emas masih mengarah ke tren bullish. Bahkan, harga emas telah berhasil kembali diperdagangkan di atas US$ 2.660 pada Rabu (2/10/2024), menunjukkan bahwa permintaan terhadap logam mulia ini tetap kuat di tengah kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.
“Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik ini, terutama mengenai aksi lanjutan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon dan kemungkinan balasan lebih lanjut dari Iran,” ucapnya.
Lebih lanjut Nugraha mengatakan, jika ketegangan terus meningkat, harga emas diperkirakan akan tetap mendapatkan dukungan dari investor yang mencari aset aman. Namun, jika situasi mereda dan fokus pasar kembali pada data ekonomi dan fundamental lainnya, kemungkinan besar emas akan menghadapi tekanan koreksi yang lebih besar. “Oleh karena itu, penting untuk tetap waspada terhadap pergerakan harga dalam waktu dekat,” tambah Nugraha.
Di samping faktor geopolitik, Nugraha mengingatkan, pasar juga memperhatikan perselisihan ketenagakerjaan di AS yang dapat mempengaruhi ekonomi global. Aksi mogok pekerja dermaga di Pantai Timur dan Gulf Coast yang dimulai pada Selasa. “Hal itu diperkirakan akan mengganggu arus perdagangan laut AS, yang bisa menjadi faktor tambahan dalam volatilitas pasar,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






