Harga Minyak Kembali Menguat Dipicu Konflik di Timur Tengah
NEW YORK, investor.id - Harga minyak kembali menguat pada Rabu (2/10/2024). Hal itu dipicu kekhawatiran konflik yang semakin memanas di Timur Tengah dapat mengancam pasokan minyak dari wilayah penghasil minyak terbesar dunia. Namun, kenaikan harga ini dibatasi oleh meningkatnya cadangan minyak Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 34 sen (0,46%) menjadi US$ 73,90 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 27 sen (0,39%) menjadi US$ 70,1 per barel.
Pada Selasa (1/10/2024), Iran meluncurkan lebih dari 180 rudal ke Israel, dalam serangan terbesar yang pernah dilakukannya terhadap negara tersebut. Israel dan AS bersumpah akan melakukan pembalasan atas serangan ini, yang menandakan meningkatnya konflik di kawasan tersebut.
Menurut laporan dari situs berita AS, Axios, pembalasan Israel dapat mencakup penargetan fasilitas produksi minyak Iran serta situs strategis lainnya. Pada Rabu, Iran menyatakan serangan misilnya terhadap Israel telah selesai, kecuali jika ada provokasi lebih lanjut. Mereka menambahkan bahwa jika Israel membalas serangan tersebut, Iran akan memberikan respons dengan kehancuran besar-besaran.
Tamas Varga dari broker minyak PVM mengatakan, serangan terhadap infrastruktur minyak Iran dapat memicu respons dari Teheran, seperti serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, Serupa dengan serangan yang terjadi pada tahun 2019 di fasilitas pengolahan minyak mentah di sana.
“Setiap peristiwa seperti ini bisa mendorong harga minyak naik secara signifikan,” tambah Varga.
Dalam perkembangan konflik lainnya, militer Israel pada Rabu mengirimkan unit infanteri dan lapis baja reguler untuk bergabung dengan operasi darat di Lebanon selatan melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Pada pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Timur Tengah, Israel dan Iran saling mengancam akan melakukan pembalasan jika diserang.
Capital Economics dalam catatannya menyebutkan, jika Iran meningkatkan konflik secara besar-besaran, AS bisa terlibat dalam perang. Iran menyumbang sekitar 4% dari produksi minyak dunia, namun pertimbangan penting lainnya adalah apakah Arab Saudi akan meningkatkan produksi jika pasokan Iran terganggu.
Cadangan Minyak AS
Sementara itu, produksi minyak Iran naik ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir sebesar 3,7 juta barel per hari pada Agustus, menurut analis ANZ. Namun, sebagian kenaikan harga minyak selama minggu ini tertekan oleh laporan peningkatan cadangan minyak AS sebesar 3,9 juta barel menjadi 417 juta barel pada pekan yang berakhir 27 September, menurut Administrasi Informasi Energi AS.
Angka itu jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 1,3 juta barel. Stok bensin juga meningkat minggu lalu, namun stok distilat mengalami penurunan.
“Dengan adanya pemeliharaan kilang yang dilakukan secara musiman, penurunan aktivitas kilang yang cukup besar telah mendorong peningkatan cadangan minyak mentah,” ujar Matt Smith, analis utama minyak di Kpler.
Pertemuan menteri-menteri utama OPEC+ pada Rabu memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi minyak yang tidak berubah. Grup tersebut berencana meningkatkan produksi sebesar 180 ribu barel per hari setiap bulan mulai Desember.
Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan, menteri minyak Arab Saudi memperingatkan harga minyak bisa turun ke US$ 50 per barel jika anggota OPEC+ tidak mematuhi pemotongan produksi yang telah disepakati. Namun, OPEC membantah klaim ini, menyatakan bahwa artikel tersebut ‘sepenuhnya tidak akurat dan menyesatkan’.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






