Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Mayoritas Tergelincir, Dow Jones Malah Lawan Arus

Penulis : Indah Handayani
27 Des 2024 | 05:13 WIB
BAGIKAN
ilustrasi Wall Street
Sumber: AP
ilustrasi Wall Street Sumber: AP

NEW YORK, investor.id – Wall Street mayoritas tergelincir pada Kamis (26/12/2024). Namun, Dow Jones Industrial Average malah melawan arus dan berhasil menghapus kerugian di awal sesi perdagangan. 

Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones ditutup naik tipis 28,77 poin (0,07%) menjadi 43.325,80, setelah sempat turun sekitar 182 poin di awal sesi. Sementara itu, S&P 500 mencatat penurunan kecil sebesar 2,45 poin (0,04%) menjadi 6.037,59. Nasdaq Composite mengalami penurunan kurang dari 0,1% menjadi 20.020,36. Pasar ditutup pada Rabu untuk perayaan Hari Natal.

Pergerakan pasar pada Kamis terjadi setelah S&P 500 mencatat performa yang solid menjelang Natal. Kenaikan 1,1% pada Selasa menandai performa terbaik Malam Natal sejak 1974. Hingga minggu ini, S&P 500 naik 1,8%, sedangkan Dow mencatat kenaikan 1,1%. Kenaikan yang kuat pada saham teknologi besar di awal minggu mengangkat Nasdaq sebesar 2,3% hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

Para investor tampak bersemangat menyambut apa yang disebut sebagai Santa Claus Rally, yang berlangsung dalam lima hari perdagangan terakhir tahun ini dan dua hari pertama di Januari. Sejak tahun 1950, S&P 500 mencatat rata-rata pengembalian sebesar 1,3% selama periode ini, jauh melampaui rata-rata pengembalian pasar selama tujuh hari yang hanya 0,3%, menurut LPL Financial. Kamis menandai hari kedua dari Santa Claus Rally.

Manajer portofolio senior UBS Wealth Management Michael Zinn mengatakan, Santa Claus Rally mungkin masih hidup dan baik. “Kita akan lihat, atau ini bisa menjadi waktu yang sulit. Ini adalah waktu yang tenang dalam setahun. institusi tidak benar-benar bertransaksi, lebih banyak dipimpin oleh ritel. Jadi, apa yang terjadi di akhir tahun ini tidak selalu menjadi indikator untuk Januari dan Februari,” paparnya.

Dari sisi data, jumlah klaim pengangguran di Amerika Serikat (AS) untuk minggu yang berakhir pada 21 Desember mencapai 219 ribu, lebih rendah dari perkiraan konsensus 225 ribu dari ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Namun, klaim lanjutan, atau aplikasi kembali untuk tunjangan pengangguran, meningkat menjadi 1,91 juta, tertinggi sejak 13 November 2021.

Sepanjang Desember, S&P 500 naik 0,1%, sementara Nasdaq yang berisi sektor teknologi meningkat sebesar 4,2%, didorong oleh kenaikan kuat pada Tesla, Apple, dan Alphabet. Namun, Dow Jones justru mengalami penurunan sekitar 3,5% dan berada di jalur untuk bulan terburuk sejak April.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 13 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 45 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 56 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 60 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia