Jumat, 15 Mei 2026

Bisnis Lesu Gerus Pendapatan ADHI, Bosnya Pamer Kurangi Utang

Penulis : Muawwan Daelami
5 Mar 2025 | 15:47 WIB
BAGIKAN
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau kemajuan pembangunan proyek infrastruktur dan konstruksi di IKN.
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau kemajuan pembangunan proyek infrastruktur dan konstruksi di IKN.

JAKARTA, investor.id – Bisnis konstruksi yang lesu telah menggerus pendapatan usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sepanjang tahun buku 2024. Namun begitu, ADHI masih sanggup mencetak laba bersih bertumbuh.

Berkaca pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2024, pendapatan usaha ADHI anjlok sebanyak 35% menjadi Rp 13,3 triliun pada tahun buku 2024, ketimbang sebelumnya Rp 20 triliun.

Penurunan tersebut akibat anyepnya pasar bisnis konstruksi, yang akhirnya berdampak pada pendapatan ADHI. Ini terlihat dari bisnis teknik dan konstruksi ADHI yang sebelumnya menghasilkan pendapatan sebesar Rp 16,8 triliun, tapi pada 2024 ambles menjadi Rp 10,9 triliun.

ADVERTISEMENT

Nasib bisnis properti dan pelayanan ADHI juga demikian. Pendapatannya terpangkas dari Rp 816 miliar menjadi Rp 488 miliar pada 2024, termasuk bisnis manufaktur yang mengempis dari Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,5 triliun. Tanpa kecuali, investasi dan konsesi ADHI merosot menjadi Rp 364 miliar dibanding sebelumnya Rp 749 miliar.

Di tengah pendapatan yang ambruk tersebut, ADHI mampu memangkas beban pokok pendapatan cukup signifikan dari Rp 17,7 triliun, menjadi Rp 11,7 triliun. Efisiensi beban ini ADHI lakukan terutama pada sisi bisnis dan produksi perseroan.

Tercatat, beban ADHI dari bisnis teknik dan konstruksi lebih efisien dari Rp 15,1 triliun, menjadi Rp 9,7 triliun per 31 Desember 2024. Begitupun dengan beban dari bisnis properti dan pelayanan ditekan menjadi Rp 364 miliar dari sebelumnya Rp 638 miliar, kemudian manufaktur dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 1,3 triliun.

Termasuk, ADHI melakukan efisiensi dari sisi investasi dan konsesi menjadi Rp 222 miliar dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 479 miliar. Lalu, dari sisi produksi, ADHI mampu mengurangi beban biaya untuk pembelian bahan baku dari sebelumnya Rp 5,6 triliun, menjadi Rp 5 triliun.

Kemudian, beban biaya subkontraktor ditekan menjadi Rp 3,3 triliun, overhead diperas lagi menjadi Rp 1,3 triliun, efisiensi tenaga kerja menjadi Rp 1,2 triliun, dan beban biaya alat menurun drastis menjadi Rp 629 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 1,1 triliun.

Sayangnya, dari sisi beban usaha, ADHI masih menghadapi tantangan. Terlihat dari beban penjualan yang meningkat dari Rp 18 miliar, menjadi Rp 19,4 miliar dan beban administrasi umum yang naik menjadi Rp 906 miliar, sehingga total beban usaha yang ditanggung ADHI pada 2024 menjadi 925 miliar. Angka ini lebih tinggi dari sebelumnya Rp 878 miliar.

Hasilnya, laba usaha emiten BUMN karya ini tergerus dari semula Rp 1,4 triliun pada 2023, tersisa Rp 702 miliar pada 2024. Belum lagi, ADHI masih terbebani oleh beban keuangan yang cukup besar mencapai Rp 837 miliar.

Di sisi lain, ADHI mampu meningkatkan laba ventura bersama menjadi Rp 884 miliar, membalikan rugi menjadi laba dari entitas asosiasi, dan mengurangi beban lain serta beban pajak penghasilan final.

Biarpun demikian, hal ini belum mampu mengangkat laba sebelum pajak ADHI di mana laba sebelum pajak setelah dipotong pajak penghasilan, turun menjadi Rp 306 miliar dari sebelumnya Rp 316 miliar, dan laba tahun berjalan terkikis menjadi Rp 281 miliar dari sebelumnya Rp 289 miliar. Sebaliknya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menguat menjadi Rp 252 miliar, dari sebelumnya Rp 214 miliar.

Dari sisi neraca, total aset ADHI pada 2024 mengalami penurunan menjadi Rp 35 triliun dibandingkan total aset pada 2023 sebesar Rp 40 triliun.

Menurut Direktur Utama ADHI Entus Asnawi Mukhson, penurunan aset tersebut terjadi karena ADHI menyelesaikan pembayaran untuk pekerjaan-pekerjaan yang dananya bersumber dari perbankan dan pembayaran-pembayaran kepada supplier dan subkontraktor.

“Penurunan aset ini kurang lebih sebesar Rp 3,5 triliun di mana sebesar Rp 2 triliun di antaranya dari perbankan,” ujar Entus di Komisi VI DPR RI Jakarta, Rabu (5/3/2025).

Entus juga memamerkan keberhasilan ADHI dalam mengurangi utang dari Rp 31,3 triliun pada 2023, menjadi Rp 25,3 triliun pada 2024. Liabilitas ADHI tersebut terdiri dari utang usaha sebesar Rp 104 triliun, uang muka kontrak sebesar Rp 1,8 triliun, utang bank dan obligasi sebesar Rp 8,9 triliun, serta liabilitas lainnya sebesar Rp 4,1 triliun.

Bila dibanding BUMN karya lain seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang mengoleksi utang sebesar Rp 70,5 triliun, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sebesar Rp 50,7 triliun, dan PT PP Tbk (PTPP) sebesar Rp 42,7 triliun per kuartal III-2024, utang ADHI tergolong yang paling rendah di antara karya-karya yang lain.

Entus berharap, penurunan utang tersebut dapat membuat aset ADHI menjadi lebih sehat dan utangnya lebih kecil. Kebalikannya, ekuitas ADHI terus menunjukkan peningkatan dari Rp 5,7 triliun pada 2021 menjadi Rp 9,7 triliun pada 2024. “Arus kas (yang diperoleh dari aktivitas operasi) juga dari tahun ke tahun insyaallah tetap positif dan terakhir di 2024 itu sebesar Rp 1,4 triliun,” tutur Entus.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 22 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 25 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia