PTPP dan Adhi Karya (ADHI) Rilis Lapkeu, Siapa Jawara?
JAKARTA, investor.id – Dua BUMN Karya, PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), telah merilis laporan keuangan (lapkeu) konsolidasian audited pada 2024. Lantas, siapa jawaranya?
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasi, PTPP membukukan pendapatan usaha sejumlah Rp 19,8 triliun. Angka ini tumbuh sekitar 7,3% dibanding pendapatan tahun lalu sebesar Rp 18,4 triliun.
Mesin pertumbuhan PTPP pada 2024 masih bersumber dari pendapatan bisnis intinya (core business) yaitu jasa konstruksi dengan kontribusi sebesar Rp 16,1 triliun, lebih tinggi 10,1% ketimbang tahun lalu sebesar Rp 14,6 triliun.
Kemudian, bisnis EPC menyumbang sebesar Rp 2 triliun, terkoreksi dari sebelumnya Rp 2,3 triliun. Kendati demikian, EPC tetap menjadi bisnis dengan pendapatan terbesar kedua PTPP, setelah bisnis jasa konstruksi.
Pendapatan terbesar PTPP selanjutnya datang dari bisnis properti dan realti dengan penghasilan sebesar Rp 795 miliar, naik 11,7% secara yoy. PTPP juga mencatatkan pertumbuhan dari pendapatan keuangan atas konstruksi aset keuangan konsesi mencapai Rp 322 miliar.
Sisanya seperti bisnis persewaan peralatan, pracetak, energi, dan jalan tol cenderung berfluktuasi dengan rata-rata pendapatan puluhan miliar. Menariknya, pada tahun ini PTPP mampu men-generate pendapatan dari bisnis jasa pertambangan sebesar Rp 75 miliar, dari sebelumnya tak menghasilkan pendapatan.
Direktur Utama PTPP Novel Arsyad sebelumnya menyampaikan bahwa PTPP melalui anak usahanya, PPRE, telah mengantongi kontrak jumbo di pasar tambang. “Kami sudah masuk ke tambang dan nilai kontrak kami di sana cukup besar. Inilah yang menjadi sasaran kenapa kami masuk ke area tersebut. Sebab, jika dikelola dengan baik, pasar tambang menjanjikan hasil usaha yang bagus,” papar dia kepada Investor Daily.
Beban Naik
Kenaikan pendapatan PTPP diikuti dengan kenaikan dari sisi beban pokok pendapatan menjadi Rp 17,1 triliun. Padahal, periode sebelumnya beban pokok PTPP sebesar Rp 16 triliun. Pembengkakan tersebut terjadi akibat meningkatnya beban jasa konstruksi menjadi Rp 14 triliun, didorong oleh kenaikan beban material, sub-kontraktor, dan beban tidak langsung serta beban peralatan.
Seiring dengan bertumbuhnya pendapatan, laba kotor PTPP pun meningkat sebesar 10,5% menjadi Rp 2,6 triliun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun. Setelah menghitung pendapatan berikut sejumlah beban, laba bersih PTPP atau laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 415 miliar, terkikis 13,7% dibanding sebelumnya Rp 481 miliar, sehingga menggerus laba per saham dasar menjadi Rp 67 per saham.
Adhi Karya (ADHI)
Berbeda dengan PTPP, pendapatan usaha Adhi Karya alias ADHI justru anjlok sebanyak 35% menjadi Rp 13,3 triliun pada tahun buku 2024, ketimbang sebelumnya Rp 20 triliun.
Penurunan tersebut akibat lesunya pasar bisnis konstruksi, yang akhirnya berimbas pada pendapatan ADHI di bisnis teknik dan konstruksi yang sebelumnya memberikan penghasilan sebesar Rp 16,8 triliun, namun pada 2024 ambles menjadi Rp 10,9 triliun.
Nasib bisnis properti dan pelayanan ADHI juga demikian. Pendapatannya terkoreksi dari Rp 816 miliar menjadi Rp 488 miliar pada 2024, termasuk bisnis manufaktur yang mengempis dari Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,5 triliun. Tanpa kecuali, investasi dan konsesi ADHI merosot menjadi Rp 364 miliar dibanding sebelumnya Rp 749 miliar.
Tekan Beban
Lainnya, yang membedakan antara PTPP dan ADHI adalah beban pokok pendapatannya. Di mana, PTPP mengalami pembengkakan, sedangkan ADHI mampu melakukan efisiensi secara signifikan dari Rp 17,7 triliun, menjadi Rp 11,7 triliun.
ADHI juga menghemat dari sisi investasi dan konsesi menjadi Rp 222 miliar dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 479 miliar. Lalu, dari sisi produksi, ADHI mampu mengurangi beban biaya untuk pembelian bahan baku dari sebelumnya Rp 5,6 triliun, menjadi Rp 5 triliun.
Kemudian, beban biaya sub-kontraktor ditekan menjadi Rp 3,3 triliun, overhead diperas lagi menjadi Rp 1,3 triliun, efisiensi tenaga kerja menjadi Rp 1,2 triliun, dan beban biaya alat menurun drastis menjadi Rp 629 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 1,1 triliun.
Sayangnya, dari sisi beban usaha, ADHI masih menghadapi tantangan, sehingga laba usaha emiten BUMN karya ini tersisa sebesar Rp 702 miliar pada 2024. Belum lagi, ADHI terbebani beban keuangan yang cukup besar mencapai Rp 837 miliar.
Beruntungnya, laba bersih ADHI atau laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk masih mampu tumbuh 17,7% menjadi Rp 252 miliar, dari sebelumnya Rp 214 miliar. Pertumbuhan laba ADHI ini agak kontras dengan laba bersih PTPP yang sedikit tertekan pada tahun buku 2024. Namun dari sisi jumlah, laba PTPP unggul kurang lebih dua kali lipat dari laba ADHI.
Dari sisi aset, PTPP juga lebih unggul dengan membukukan penguatan menjadi Rp 56,58 triliun pada 2024. Liabilitas PTPP turun menjadi Rp 41,3 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 15,2 triliun. Termasuk, saldo kas dan setara kas PTPP pada akhir tahun terkerek menjadi Rp 4,18 triliun.
Sebaliknya, aset ADHI berkurang cukup dalam dari Rp 40,4 triliun, menjadi Rp 35 triliun, diimbangi berkurangnya liabilitas menjadi Rp 26 triliun dan ekuitas menguat menjadi Rp 9,6 triliun. Posisi kas dan setara kas ADHI pada akhir juga menciut menjadi Rp 2,2 triliun dibanding sebelumnya sebesar Rp 4,5 triliun.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






