Harga Bitcoin Anjlok ke US$ 81 Ribu, Kenapa?
JAKARTA, investor.id - Pasar kripto rontok dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin anjlok ke level US$ 81 ribu karena terseret pelemahan pasar keuangan, terutama pelemahan indeks-indeks Wall Street.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Jumat (14/3/2025) pukul 06.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global terkoreksi 1,87% menjadi US$ 2,66 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) terlihat anjlok 2,8% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 81.154 per koin atau setara Rp 1,33 miliar (kurs, Rp 16.425).
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 2,1% menjadi US$ 1.863 per koin. Sedangkan Binance (BNB) malah menguat 1,4% menjadi US$ 577 per koin. Sedangkan
Dikutip dari Coindesk, Bitcoin (BTC) terus berjuang pada Kamis (14/3) untuk bertahan di atas level US$ 80 ribu. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini turun 3% dalam sehari, dengan penurunan sebesar 13% sepanjang kuartal pertama 2025 dan sekitar 30% dari rekor tertingginya pada Januari lalu.
Baca Juga:
Kok Bitcoin Sekarang Seperti Ini?Menurut data dari Glassnode, pemegang jangka pendek, investor yang memiliki Bitcoin kurang dari 155 hari, telah menjual lebih dari 100 ribu BTC sejak Februari. Jumlah ini setara dengan sekitar US$ 8 miliar dengan harga saat ini. Langkah ini menandakan bahwa mereka berusaha mengurangi kerugian atau mengamankan keuntungan sebelum harga turun lebih dalam.
Tren Pasar
Penurunan ini telah mendorong harga Bitcoin di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-DMA) di level US$ 86.300, yang merupakan indikator penting bagi tren pasar jangka panjang. Bitcoin bukan satu-satunya aset berisiko yang mengalami tekanan, karena indeks saham AS, S&P 500, juga mengalami nasib serupa.
Baca Juga:
Kenapa Nasib Bitcoin Sekarang Begini?Saat ini, S&P 500 berada di kisaran 5.537, turun dari rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di 5.738. Menurut Joe Carlasare, seorang litigator komersial yang mendukung Bitcoin, kegagalan S&P 500 untuk kembali ke atas level tersebut bisa menjadi sinyal penurunan lebih lanjut.
"S&P 500 terus kesulitan untuk kembali ke atas 200-DMA. Jika kita tidak segera melihat reli besar, kemungkinan harga akan turun lebih jauh. Sejarah menunjukkan bahwa ketika kita kehilangan level 200 hari, penurunan sering kali terjadi,” tulisnya di platform X.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






