Segera Umumkan Dividen, Saham Ini Naik 10% dalam 5 Hari
Analis Philip Sekuritas Edo Ardiansyah menilai, tren penguatan saham TUGU dipengaruhi beberapa faktor. Pertama adalah rencana pengumuman dividen pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahun (RUPST) emiten TUGU pada Selasa, 29 April 2025. Emiten ini konsisten membagikan dividen dengan imbal hasil yang lumayan menarik sejak IPO pada 2018 lalu.
"Dividend payout ratio sesuai konsensus IPO adalah 30% dan dalam 3 tahun terakhir selalu 40% dari laba bersih. Bila ini terjadi maka yield dividen akan menarik seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berperan dalam rally saham TUGU dalam empat hari terakhir, di luar faktor bahwa valuasi emiten ini sudah cukup murah," ujarnya.
Dengan perhitungan sederhana, potensi dividen per saham TUGU berada di kisaran Rp 59,06 hingga Rp 78,75 dengan asumsi DPR 30-40%. Dengan demikian, yield dividen dengan perbandingan harga saham hari ini di kisaran 6,12% sampai 8,16%.
"Investor yang kemarin collect TUGU di harga bawah Rp 860-900 tentu akan mendapatkan yield yang lebih menarik," jelas dia.
Faktor berikutnya, menurut Edo adalah potensi kenaikan saham ini karena nilai buku (book value) saham TUGU selalu naik setiap tahun. Hal ini disebabkan karena sekitar 60%-70% laba akan ditahan sebagai modal.
"Asumsi bahwa saham TUGU tetap diperdagangkan pada 0,35x sampai 0,4x PBV (price to book value) maka harganya tahun depan akan naik dibandingkan per hari ini dan begitu pula tahun berikutnya. Apalagi 0,4x PBV itu masih relatif murah dan berpeluang naik ke 0,8x PBV hingga 1x PBV," papar dia.
Dalam konsensus analis yang dikompilasi oleh Bloomberg, Saham TUGU diproyeksi akan mencapai Rp 1.410 hingga di atas Rp 2.435. Ada enam analis yang memberikan analisis terhadap saham TUGU dan semuanya memberikan rekomendasi beli.
Edo mengingatkan bahwa emiten ini banyak dipegang oleh investor institusi dengan masa investasi cukup panjang. Hal ini yang menyebabkan transaksi harian kurang ramai bila dibandingkan dengan emiten yang banyak dipegang oleh investor ritel yang jangka pendek.
"Positifnya bila ada tekanan dalam seperti yang terjadi pada pekan lalu, maka investor institusi yang akan masuk lagi untuk koleksi di harga bawah sehingga rebound akan terjadi secara cepat," ujarnya.
Edo menambahkan bahwa saham TUGU seharusnya masuk dalam kategori saham defensif dalam volatilitas pasar akibat kebijakan Tarif Trump. Pasalnya perusahaan ini tidak melakukan ekspor termasuk ke Amerika Serikat.
"TUGU punya captive market Pertamina serta banyak customer besar dari BUMN. Hal ini yang menjadi mesin pendapatannya akan tetap terjaga meski saat ini dunia masih dalam bayang-bayang perang dagang AS," ujarnya.
Sementara itu, analis teknikal Yazid Muammar menilai dalam jangka pendek harga saham TUGU akan menguji resistance level antara Rp 980 hingga Rp 1.000 per saham sebagai level psikologis yang kuat. TUGU juga berpeluang menguji level harga selanjutnya di Rp 1.050 hingga Rp 1.100 per sahamnya.
"Sementara itu, support level terdekat saat ini berada di area Rp 880-900 per saham. Jika harga saham mampu bertahan di atas Rp 950 dalam beberapa hari ke depan dengan volume yang meningkat, maka peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka," imbuh Yazid.
Dia menyarankan investor yang akan trading saham TUGU dalam jangka pendek tetap memperhatikan hasil dari RUPS mengenai dividen dan pengumuman kinerja keuangan pada kuartal I-2025.
Editor: Nida Sahara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






