Arah Pasar Saham di Tengah Perlambatan Ekonomi RI
JAKARTA, investor.id – Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 4,87% pada kuartal I-2025 atau di bawah konsensus analis yang diekspektasikan sebesar 4,91%, berpotensi memberikan dampak yang tidak enteng terhadap pasar saham di Tanah Air.
Analis Pasar Modal Hans Kwee menilai, perlambatan pertumbuhan Indonesia jika terus berlanjut bakal berimbas negatif kepada pasar saham yang kini berada pada tren positif didorong oleh melunaknya sikap Amerika Serikat (AS) yang mau berunding dengan China terkait tarif impor.
Negosiasi kedua negara besar tersebut, menurut Hans, telah membuat pasar saham bukan hanya di Indonesia, tetapi juga pasar saham global menguat. “(Penguatan) pasar saham kita juga terbantu oleh menguatnya nilai tukar rupiah. Jadi, ini cukup bagus bagi pasar keuangan kita ditandai dengan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang lumayan tinggi,” ujar Hans kepada Investor Daily dikutip, Rabu (7/5/2025).
Walau begitu, dia lebih merekomendasikan para pelaku pasar untuk buy on weakness atau menunggu koreksi harga untuk mengakumulasi saham. Adapun, saham-saham yang direkomendasikan adalah saham berkapitalisasi besar (big cap) dan saham emiten BUMN seperti BMRI, BBRI, BBCA, BBNI, dan TLKM.
Suku Bunga The Fed
Sementara, menyangkut suku bunga The Fed, Hans memperkirakan, bank sentral AS akan menahan penurunan tingkat suku bunga dan baru akan menurunkannya pada Juli mendatang karena data non-farm payroll menunjukkan performa yang cukup bagus.
“Jadi, The Fed mungkin akan menahan dulu dan baru menurunkan suku bunga pada Juli bisa 3-4 kali akibat kebijakan Trump yang berdampak pada pelemahan ekonomi AS,” kata dia.
Dengan begitu, pasar keuangan di Indonesia yang kini berada pada tren naik terancam tidak akan berlanjut (sustainable) imbas dari volatilitas yang berpotensi kembali kencang. “Jadi, investor sebaiknya melakukan trading karena kenaikan (pasar saham) tidak akan running terus,” imbuhnya.
Karena itu, kata Hans, tak ada salahnya investor melirik obligasi apalagi jika imbal hasilnya (yield) mengalami kenaikan. Sebab, obligasi cenderung aman dibanding instrumen investasi yang lain.
Sedangkan emas, Hans tidak merekomendasikan lantaran harganya yang sudah kelewat premium. “Kalau jangka panjang, emas mungkin akan naik. Tapi kalau sekarang sudah kemahalan,” tandasnya.
Terpisah, Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Bakhrul Fikri menambahkan, dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi terhadap pasar keuangan Indonesia tidak akan terlihat jika merujuk pada data-data fundamental ekonomi yang dirilis pemerintah.
Baca Juga:
IHSG Kuat Menanjak, 5 Saham Naik TinggiNamun, Bakhrul menggarisbawahi, data Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) yang anjlok ke level 46,7 pada April 2025 dari Maret sebesar 52,4, jelas menunjukkan sebuah anomali.
“Artinya, data-data soal pengangguran melonjak, banyaknya pabrik yang tutup, dan lain-lain membuktikan investor semakin tidak berminat berinvestasi di pasar domestik. Lesunya investasi asing juga tercermin dari rilis Bank Indonesia yang mencatat net foreign capital outflow mencapai Rp 32,48 triliun pada April di pasar saham,” beber Bakhrul kepada Investor Daily.
Terkait suku bunga, Bakhrul berpandangan, probabilitas The Fed untuk menurunkan suku bunga pada 8 Mei mendatang masih sangat kecil lantaran data ketenagakerjaan di AS pada April mencapai 177.000 pekerja baru, sehingga data pengangguran terbaru di AS yang dirilis pada 29 April 2025 mencapai 105.000 orang.
“Jadi, The Fed kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga di angka yang sama yaitu 4.5%. Probabilitas tersebut membuat proyeksi suku bunga The Fed pada Juli tetap akan berada di level 4-4.25%. Tetapi, masih ada peluang untuk menurunkan suku bunga sampai akhir tahun, tergantung dari eskalasi perang tarif,” tutur Bakhrul.
Dovish
Analis Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi Kasmarandana, merinci breakdown penurunan terbesar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2025 berasal dari sektor pertambangan.
Di mana, sejalan dengan koreksi yang terjadi pada sektor energi dan penurunan harga komoditas energi global, permintaan diperkirakan mengalami penyusutan. Selain itu, belanja pemerintah juga terkontraksi paralel dengan efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk menjaga fiskal.
Sebaliknya, konsumsi rumah tangga cenderung tumbuh sebesar 4,89% yoy yang menunjukkan daya beli cukup terjaga. “Jadi, kami melihat IHSG cenderung masih bergerak positif meski terjadi perlambatan pertumbuhan PDB. Pemerintah dapat melakukan intervensi melalui peningkatan belanja pemerintah di kuartal II-2025 dan meningkatkan foreign direct investment (FDI),” papar Audi kepada Investor Daily.
Menyangkut suku bunga The Fed, Audi bilang, bank sentral AS tersebut masih akan dovish seiring dengan data tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang masih di atas target. Biarpun demikian, pihaknya mencermati, The Fed belum akan memangkas suku bunga pada kuartal II-2025.
Berdasarkan data CME FedWatch, peluang pemangkasan sebesar 57% terjadi pada Juli 2025. Alhasil, capital inflow asing berpotensi belum akan terjadi menyusul kondisi pasar yang masih konservatif hingga defensif.
“BI rate kami perkirakan akan sejalan atau mirroring dengan FFR, sehingga kekhawatiran tekanan berlanjut untuk emiten strategis seperti perbankan dan telko. Para pelaku pasar dapat memanfaatkan ruang penguatan jangka pendek hingga menengah, terlebih pada emiten yang tumbuh resilien di tiga bulan pertama tahun ini,” tutup Audi.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






