Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Dagang dengan Inggris

Penulis : Indah Handayani
9 Mei 2025 | 04:16 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas, Sumber Freepick
ilustrasi harga emas, Sumber Freepick

NEW YORK, investor.id - Harga emas dunia rontok lebih dari 1% pada Kamis (8/5/2025). Setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang dengan Inggris.

Dikutip dari Reuters, kesepakatan ini memicu optimisme pasar akan tercapainya perjanjian serupa dengan negara lain, sehingga menekan permintaan emas sebagai aset safe haven.

Harga emas di pasar spot jatuh 1,7% menjadi US$ 3.307,84 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup anjlok 2,5% ke level US$3.306 per ons.

ADVERTISEMENT

Trump bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan kesepakatan dagang yang disebut sebagai ‘terobosan besar’.

Dalam kesepakatan ini, tarif 10% untuk barang impor dari Inggris tetap diberlakukan, sementara Inggris sepakat menurunkan tarifnya dari 5,1% menjadi 1,8% dan memberikan akses lebih luas untuk produk-produk AS.

“Jika nanti kesepakatan dagang dengan China juga tercapai, akan ada tekanan besar ke harga emas. Emas berpotensi turun setidaknya ke level US$3.200,” ujar analis senior di RJO Futures Bob Haberkorn.

Pertemuan AS-China

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dijadwalkan bertemu dengan pejabat ekonomi tertinggi China pada Sabtu mendatang di Swiss.

Emas, yang selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, sempat mencetak rekor harga beruntun sejak Trump pertama kali memberlakukan tarif perdagangan.

Di sisi lain, bank sentral China telah menyetujui pembelian valuta asing oleh bank-bank komersial untuk membiayai impor emas di bawah kuota yang baru-baru ini ditingkatkan, menurut dua sumber yang mengetahui langsung kebijakan tersebut.

“Secara teori, langkah ini seharusnya mendukung harga emas karena meningkatnya permintaan dari China. Namun, saat ini pergerakan pasar lebih banyak dipengaruhi perkembangan terkait tarif,” kata Zain Vawda, analis MarketPulse dari OANDA.

Sementara itu, cadangan emas di brankas London meningkat pada April, seiring kembalinya lebih banyak emas dari New York setelah ketidakstabilan pasar sebelumnya. Para pelaku pasar meningkatkan pengiriman emas ke AS pada periode Desember-Maret untuk melindungi posisi mereka di COMEX, mengantisipasi kemungkinan penerapan tarif impor oleh AS.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak turun ke US$ 32,48 per ons. Sedangkan platinum malah naik 0,8% ke US$ 981,6 dan paladium menguat 0,3% ke US$ 974,81.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 15 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 47 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 58 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia