Jumat, 15 Mei 2026

Arah IHSG setelah Perang Dagang AS dan China Mereda

Penulis : Jauhari Mahardhika / Eva Fitriani
13 Mei 2025 | 19:03 WIB
BAGIKAN
Pengunjung berada di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sementara mereda saat pasar saham Indonesia libur cukup panjang. Lantas, bagaimana prediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) selanjutnya dan saham mana yang berpotensi cuan?

Sebagai informasi, Amerika sepakat menurunkan tarif barang-barang China dari 145% menjadi 30%. Untuk barang terkait fentanyl dari China tetap diberlakukan sebesar 20%.

Sedangkan China sepakat menurunkan tarif barang-barang Amerika dari 125% menjadi 10%. Selain itu, China akan menghentikan atau mencabut langkah balasan non-tarif, seperti pembatasan ekspor mineral langka dan daftar hitam perusahaan Amerika.

ADVERTISEMENT

Amerika Serikat dan China juga sepakat membentuk mekanisme diskusi lanjutan yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng dan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent serta perwakilan dagang AS, Jamieson Greer.

“Penurunan tarif disepakati mulai 14 Mei selama 90 hari sebagai langkah awal meredakan perang dagang,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Selasa (13/5/2025).

Sementara itu, merespons kesepakatan dagang sementara antara Amerika Serikat dan China, Wall Street mencetak reli besar pada Senin (12/5). Indeks Dow Jones melesat 2,8%, S&P 500 melejit 3,3%, dan Nasdaq melonjak 4,4% – dipimpin oleh saham teknologi seperti Apple, Amazon, dan Alphabet.

“Investor merespons positif gencatan tarif 90 hari yang diumumkan usai pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China di Jenewa, Swiss,” tulis Kiwoom Sekuritas dalam catatannya.

Menurut broker efek itu, pasar juga akan menghadapi beberapa sentimen krusial pada pekan ini. Salah satunya pengumuman inflasi AS. Data tersebut dapat memberikan sedikit gambaran tentang dampak ketegangan perdagangan baru-baru ini.

Departemen Tenaga Kerja AS memperkirakan CPI April mencapai 2,4% atau sesuai dengan level di bulan Maret. Beberapa pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Ketua Jerome Powell, dijadwalkan menyampaikan pernyataan publik pada Kamis (15/5), berbarengan dengan data penjualan eceran AS April.

Beberapa data penting lain juga akan dirilis, di antaranya CPI Jerman April, GDP Inggris dan Zona Euro kuartal I-2025, serta GDP Jepang kuartal I-2025. Pelaku pasar domestik juga menanti data penjualan eceran Maret, neraca perdagangan April, dan ekspor-impor.

Arah IHSG dan Saham Potensial Cuan 

Pendiri Stocknow, Hendra Wardana meyakini IHSG berpeluang besar menguji level psikologis 7.000, seiring munculnya angin segar dari perkembangan negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan China.

“Langkah ini disambut positif oleh pelaku pasar global karena menunjukkan itikad baik dua kekuatan ekonomi dunia dalam menghindari eskalasi konflik dagang yang selama ini menekan perdagangan dan kepercayaan investor,” jelas dia.

Bagi pasar saham Indonesia, kata Hendra, sentimen tersebut membuka ruang penguatan lanjutan karena bisa mendorong stabilisasi harga komoditas, memperbaiki prospek ekspor, serta meningkatkan appetite terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia – terlebih jika berlanjut menjadi kesepakatan jangka panjang.

Secara teknikal, IHSG berada di jalur pengujian area resistance penting di 6.945. Apabila level ini ditembus dengan volume yang memadai, peluang IHSG menembus level 7.000 dalam waktu dekat sangat terbuka. “Bahkan bisa terjadi dalam 1-2 pekan ke depan, lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya,” ungkap dia.

Dalam kondisi pasar yang dipenuhi sentimen positif saat ini, Hendra menilai saham-saham seperti ANTM (target harga Rp 2.800) dan INCO (target harga Rp 2.970) berpotensi diuntungkan dari prospek pemulihan permintaan logam industri.

Sedangkan saham PTPP (target harga Rp 442) menarik di tengah ekspektasi akselerasi pembangunan. Di sektor keuangan, saham BBRI (target harga Rp 4.050) tetap menjadi pilihan defensif.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 25 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 57 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia