Saham Lesu, Manajemen BMRI Bilang Gini
JAKARTA, investor.id - Saham bank-bank papan atas lesu pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (18/6/2025) usai pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan di 5,5%.
Keempat saham emiten perbankan yang kontraksi juga sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memerah. Mengacu dara RTI Business, IHSG ditutup di level 7107,79 atau turun 48.06 poin (0,67%).
Sementara, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,93% ke level Rp 8.900 per saham, turun terdalam dibandingkan bank-bank besar lainnya. Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 1,38% menjadi Rp 4.300 per saham.
Baca Juga:
BBRI BMRI Cs Turun, Ada Apa?Berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mengalami koreksi 0,51% ke level Rp 3.940 per saham pada penutupan perdagangan hari ini. Lalu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga turun 0,49% ke level Rp 5.075 per saham.
Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary BMRI M. Ashidiq Iswara mengatakan bahwa volatilitas harga saham BMRI saat ini tidak mencerminkan fundamental Bank Mandiri yang masih membukukan kinerja positif hingga kuartal I-2025 dengan pertumbuhan kredit secara konsolidasi sebesar 16,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 1.672,42 triliun.
"Kami optimis dapat melanjutkan tren pertumbuhan bisnis secara sehat sesuai dengan rencana bisnis yang sudah kami sampaikan kepada regulator. Sehingga kami dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham BMRI," ungkap Ossy sapaan akrabnya, kepada Investor Daily.
IHSG hari ini juga dinilai tertekan seiring pelemahan Indeks Saham Asia karena pasar masih terbebani gejolak konflik Iran dan Israel yang dikhawatirkan meluas.
Menurut Ossy, dampak konflik Israel dan Iran memang terlihat langsung pada volatilitas pasar keuangan dan fluktuasi harga komoditas terutama harga minyak. Jika konflik berlangsung lama atau tereskalasi lebih jauh, kenaikan harga minyak dapat menyebabkan tekanan inflasi dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.
"Konsekuensinya, perbankan juga akan menghadapi risiko tekanan terhadap likuiditas dan melambatnya pertumbuhan kredit yang lebih dalam," kata Ossy.
Editor: Nida Sahara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






