Di Balik Tekanan Kinerja ADMR
JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terpukul oleh pendapatan dari penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga yang drop di sepanjang semester I-2025. Belum lagi, tekanan datang dari fluktuasi nilai tukar yang semakin menambah berat performa ADMR.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang dipublikasi, pendapatan usaha Alamtri Minerals (ADMR) turun 26,86% secara yoy menjadi US$ 443,94 juta per 30 Juni 2025. Penurunan paling dalam berasal dari penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga yang merosot ke level US$ 234,11 juta.
Baca Juga:
PBV ADRO 0,6 Kali, Serok?Padahal, pada periode sama tahun sebelumnya, entitas usaha Grup Alamtri penghasil batu bara metalurgi (metallurgical coal) ini mampu menorehkan pendapatan dari penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga mencapai US$ 388,31 juta.
Pihak ketiga yang menjadi mitra penjualan hasil tambang ADMR adalah PT Risun Wei Shan Indonesia dan Posco International Corporation. Pendapatan perseroan dari penjualan hasil tambang ke PT Risun tepangkas dari US$ 93,84 juta menjadi US$ 34,43 juta. Begitupun, dengan pendapatan dari Posco yang tergelincir menjadi US$ 12,97 juta ketimbang sebelumnya US$ 77,77 juta.
Sebaliknya, pendapatan ADMR dari penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi dalam hal ini Adaro International (Singapore) Pte Ltd. relatif stabil dengan kecenderungan menurun dari US$ 218,13 juta per 30 Juni 2024, menjadi US$ 207 juta per 30 Juni 2025.
Akan tetapi, pendapatan ADMR dari bisnis jasa lainya kepada pihak berelasi melesat sebanyak 250,7% menjadi US$ 2,07 juta. Jauh bila dikomparasikan dengan perolehan periode enam bulan tahun lalu yang hanya mengantongi pendapatan dari bisnis jasa sebesar US$ 591 ribu.
Sementara dari sisi beban pokok pendapatan, ADMR mampu melakukan efisiensi sebesar 4,81% menjadi US$ 263,74 juta dibandingkan posisi per 30 Juni 2024 sebesar US$ 277 juta, diikuti penghematan dari sisi beban usaha sebesar 4,36%.
Laba ADMR
Penurunan pendapatan usaha ADMR membuat laba bruto perseroan menipis sebanyak 45,39% secara yoy menjadi US$ 180,19 juta daripada laba bruto sebelumnya sebesar US$ 329 juta. Artinya, efisiensi yang dilakukan perseroan belum mampu mengangkat performa perseroan.
Faktor lain yang menekan kinerja ADMR datang dari fluktuasi nilai tukar. Per 30 Juni 2025, perseroan menelan total kerugian akibat selisih nilai tukar sebesar US$ 2,66 juta atau ekuivalen Rp 43 miliar (asumsi kurs Rp 16.490 per US$). Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode 30 Juni 2024 yang mana perseroan justru mencetak untung sebesar US$ 250,87 ribu.
Setelah dipotong pajak, ADMR membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 140,49 juta atau setara Rp 2,31 triliun, melemah sebanyak 43.51%. Kemudian, setelah dipotong kepentingan non-pengendali, laba periode berjalan perseroan menyisakan sebesar US$ 138,88 juta atau setara Rp 2,28 triliun, lebih kecil dari sebelumnya US$ 247,82 juta.
Dari sisi kas dan setara kas, ADMR mempunyai pegangan cukup tebal. Bahkan, kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2025 meningkat menjadi US$ 429,94 juta dibanding periode serupa tahun sebelumnya yang mencatatkan sebesar US$ 399,16 juta.
Baca Juga:
Grup Bakrie Berburu Cadangan Migas BaruTotal aset perseroan juga menguat dari US$ 2,07 miliar menjadi US$ 2,44 miliar. Bersamaan dengan itu, total liabilitas ADMR membengkak ke posisi US$ 891,42 juta dari sebelumnya US$ 571,33 juta dengan total ekuitas membukukan sebesar US$ 1,55 miliar.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






