Saham Diskon Diborong Lo Kheng Hong, Siap-siap Kejutan?
JAKARTA, investor.id - Investor kawakan Lo Kheng Hong tercatat kepemilikannya bertambah atas saham PT ABM Investama Tbk (ABMM). Berdasarkan laporan registrasi pemegang saham ABMM per 31 Agustus 2025, Lo Kheng Hong jadi menggenggam 151.206.500 (5,492%) saham.
Padahal, pada bulan sebelumnya yakni per akhir Juli 2025, investor legendaris Lo Kheng Hong terpantau masih mengoleksi 151.186.500 (5,491%) saham emiten batu bara, ABM Investama berkode ABMM.
Saham ABM Investama sendiri melemah dalam periode year to date (ytd) alias tahun berjalan hingga 18,64%, dari posisinya Rp 3.540 di awal tahun ke Rp 2.880 per perdagangan Rabu (10/9/2025) kemarin.
Secara valuasi, saham ABM Investama (ABMM) masih diskon. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) ABMM 0,58 kali. Sedangkan price earning ratio (PER) di angka 8,70 kali (annualized).
Sementara itu, ABM Investama (ABMM) membukukan laba bersih US$ 27,7 juta pada semester I-2025. Angka itu melemah 69,6% dari US$ 91,2 juta pada periode yang sama tahun 2024.
Pendapatan perseroan juga melemah 11,7% ke posisi US$ 506,9 juta pada enam bulan pertama tahun ini. Dibandingkan dengan pendapatan ABM Investama pada semester I-2024 yang sebesar US$ 573,9 juta.
“Pendapatan konsolidasian tercatat sebesar USD 506,9 juta, turun 12% secara tahunan (yoy),mencerminkan dampak dari penurunan harga batu bara dan tantangan operasional akibat cuaca ekstrem yang berkepanjangan,” jelas Direktur PT ABM Investama Tbk (ABMM), Hans Manoe dalam keterangan resmi.
Kendati demikian, ABMM terus memperkuat posisinya melalui pengelolaan modal yang disiplin dan pertumbuhan sinergis. Kepemilikan efektif sebesar 30% di PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui PT Radhika Jananta Raya memberikan kontribusi pendapatan dividen sebesar US$ 63 juta pada semester I-2025.
Selain itu, kata Hans Manoe, di segmen pertambangan batu bara melalui PT Reswara Minergi Hartama (RWA), perseroan mengendalikan 70% saham PT Nirmala Coal Nusantara yang diperkirakan akan memulai produksi pada kuartal IV-2025. Juga, RWA telah menyelesaikan akuisisi PT Piranti Jaya Utama yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026. Akankah hal tersebut mempengaruhi kinerja keuangan ABMM jadi lebih baik ke depan?
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






