Dua Bank Ternama Yakin Harga Emas Bisa Tembus US$ 4.000
JAKARTA, investor.id - Perbankan asal Amerika Serikat, Bank of America memperkirakan harga emas dunia akan mencapai US$ 4.000 pada kuartal kedua tahun 2026.
Proyeksi serupa juga telah dikeluarkan oleh Deutsche Bank, yang secara agresif menaikkan proyeksi harga emas dunia tahun 2026 menjadi US$ 4.000 troy ons. Perbankan asal Jerman itu sebelumnya memproyeksi harga emas akan menyentuh level US$ 3.700 tahun depan.
Dikutip dari Kitco News, Kamis (18/9/2025) Bank of America yakin pasar dan harga emas tetap terdukung karena Federal Reserve (The Fed) berupaya melonggarkan suku bunga di tengah tekanan inflasi Amerika Serikat yang tinggi.
“The Fed biasanya mengambil pendekatan yang seimbang terhadap tujuan kebijakan gandanya, yaitu lapangan kerja penuh dan stabilitas harga. Oleh karena itu, dari perspektif emas, memprioritaskan pasar tenaga kerja di atas inflasi merupakan hal yang penting,” kata tim emas Bank of America yang dipimpin oleh Michael Widmer.
“Sejak 2001, harga emas terus menguat setiap kali The Fed memangkas suku bunga ketika Indeks Harga Konsumen AS di atas 2%," ungkap lembaga perbankan terbesar kedua di AS itu.
Bank of America mencatat bahwa harga emas telah mengalami kenaikan rata-rata sekitar 13% dalam 12 bulan, setelah The Fed memangkas suku bunga di tengah lingkungan inflasi yang membandel. Namun, hal itu tampaknya merupakan respons yang cukup teredam, karena harga emas telah naik hampir 40% sepanjang tahun ini.
Pada saat yang sama, tim Widmer mencatat bahwa kebijakan moneter jangka pendek AS bukanlah satu-satunya faktor yang menopang dan mendorong harga emas lebih tinggi. Dijelaskannya, emas juga menarik minat investor terhadap aset safe haven, karena mereka bereaksi terhadap kekhawatiran tentang prospek fiskal yang menantang dan meningkatnya beban utang di seluruh dunia.
"Logam kuning telah berkorelasi dengan suku bunga nominal 30 tahun, mencapai titik tertinggi sepanjang masa karena acuan Treasury telah menguat menuju 5%," kata para analis Bank of America soal harga emas.
Selain itu, bank tersebut juga menyoroti pelemahan dolar AS yang semakin besar karena negara-negara mulai mempertanyakan perannya sebagai mata uang cadangan dunia. Perkembangan ini menjadi dukungan lebih lanjut untuk kenaikan harga emas.
"Sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi makro ini, bank sentral terus meningkatkan eksposur mereka terhadap emas," kata para analis.
"Otoritas moneter sekarang memiliki lebih banyak emas daripada Treasury, meskipun laju pembelian emas mereka telah melambat dibandingkan tahun lalu," tambahnya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






