BCA (BBCA) dalam Mode Waspada, Sebelum Lepas Landas
JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp 39,06 triliun hingga Agustus 2025, tumbuh melambat menjadi sebesar 8,52% year on year (yoy). Ini merupakan perlambatan kinerja laba yang terjadi selama lima bulan berturut-turut, sejak tumbuh tinggi pada Maret 2025.
Sebagai gambaran, pada Maret 2025 laba bersih BCA tumbuh sampai dengan 27,66% yoy, melesat hampir dua kali lipat dari akhir 2024 yang tercatat sebesar 14,01% yoy. Tapi dalam perkembangannya, kinerja profitabilitas bank swasta terbesar di RI itu menjadi agak tertahan.
Dengan menilik laporan keuangan, dapat diketahui beberapa aspek yang memengaruhi kinerja BBCA selama delapan bulan pada tahun ini. Pertama-tama yang paling mencolok adalah biaya pencadangan atau provisi terus meningkat. Telah terjadi lonjakan hingga dua kali lipat atau sebesar 106,79% yoy menjadi sebesar Rp 2,66 triliun.
Pada Agustus saja, BCA membukukan biaya provisi mencapai Rp 750,32 miliar atau meningkat 130,48% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut juga menjadi yang terbesar selama 20 bulan terakhir.
Lonjakan biaya provisi tersebut menyeret rasio cost of credit (CoC) lepas dari sasaran 0,3%. Rasio CoC dari BCA tercatat 0,44% selama delapan bulan dan sebesar 0,98% hanya pada Agustus 2025.
Langkah kehati-hatian dalam melakukan pencadangan ini bisa dipahami mengingat adanya indikasi kualitas kredit BCA sedang mengalami tren pemburukan. Berdasarkan bahan presentasi perusahaan, kredit macet (non-performing loan/NPL) bergerak naik dari 2,0% per Desember 2024 menjadi 2,2% pada Juni 2025.
Di saat sama, kredit berisiko (loan at risk/LAR) meski terjaga sangat rendah, tetapi dalam tren menanjak dari 5,3% di akhir tahun lalu menjadi 5,8% pada Juni 2025. Kategori kredit kol 1 dan 2 juga mengalami peningkatan. Beberapa sektor kredit yang mencatat adanya pemburukan kualitas yaitu konsumer, UKM, dan komersial.
Selanjutnya, pendekatan konservatif memengaruhi perilaku BCA untuk lebih waspada dalam menyalurkan kredit—meskipun pengaruh dari sisi permintaan (demand) yang tengah lesu juga tak bisa diabaikan. Kredit BCA pada Agustus tumbuh 9,28% yoy dan -0,29% mtm menjadi Rp 920,87 triliun.
Untuk diketahui, pertumbuhan kredit ke ranah single digit itu terjadi untuk pertama kalinya di tahun ini. Sehingga menjadi pekerjaan yang menantang bagi BCA dalam 4 bulan terakhir guna mengejar sasaran 6-8% yoy. Apalagi, kredit sebenarnya cuma tumbuh sebesar 2,90% year to date (ytd) hingga Agustus 2025.
Fundamental Solid
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






