IMF Diminta Jual Emas
JAKARTA, investor.id – Sebuah laporan baru terkait G20 mengusulkan agar IMF menjual sebagian aset emasnya yang bernilai tinggi untuk membantu melunasi utang yang membebani negara-negara Afrika.
Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, yang menyambut baik usulan tersebut menjelang KTT G20 pertama di Afrika akhir pekan ini.
Baca Juga:
Pasar Emas China Terus Melejit“Secara global, lebih dari 3,4 miliar orang tinggal di negara-negara yang menghabiskan lebih banyak biaya untuk membayar utang daripada untuk pendidikan atau layanan kesehatan,” demikian pernyataan laporan tersebut, dikutip dari Kitco News, Kamis (20/11/2025).
Laporan tersebut juga mengutip angka-angka terbaru yang menunjukkan utang publik di negara-negara berkembang telah melampaui US$ 31 triliun pada tahun 2024, dan menyarankan agar G20 bekerja sama dengan IMF dan Bank Dunia untuk menyusun rencana pembiayaan kembali utang bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan secara ekonomi.
Mantan menteri keuangan Afrika Selatan dan ketua Panel Pakar Afrika, Trevor Manuel menilai bahwa salah satu cara untuk mendukung upaya tersebut adalah dengan menjual sebagian dari puluhan juta ons emas yang dimiliki IMF.
Baca Juga:
Emas Masih Bisa PanasTrevor Manuel menyoroti, cadangan emas IMF yang sangat besar masih tercatat pada harga historisnya US$ 50 per troy ons, meskipun harga emas saat ini diperdagangkan di atas US$ 4.100 per troy ons.
"Ada banyak detail yang dapat dan harus dikerjakan, tetapi ini adalah solusi yang sudah di depan mata kita dan tidak harus mengeluarkan biaya," ujarnya.
"Senang mendengar... bahwa ada cadangan emas di IMF," kata Ramaphosa setelah menerima laporan tersebut.
Baca Juga:
Harga Emas Lanjut Melemah, Mengapa?"Ini adalah jenis sumber daya yang dapat disediakan untuk diperdagangkan, baik untuk menjamin maupun membiayai utang banyak negara di belahan bumi selatan," tuturya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






