Sabtu, 4 April 2026

Spekulan China Dituding Jadi Pemicu Kekacauan Harga Emas Dunia

Penulis : Grace El Dora
13 Feb 2026 | 16:09 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas. (Treasury)
Ilustrasi emas. (Treasury)

WASHINGTON, investor.id – Gejolak harga emas yang luar biasa dalam beberapa pekan terakhir mulai dikaitkan dengan aktivitas perdagangan spekulatif di China. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent bahkan menyebut, pergerakan harga logam mulia ini menjadi tidak terkendali akibat ulah para spekulan di pasar Negara Tirai Bambu itu.

Emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 5.594 per ons pada 29 Januari 2026 seperti dipantau pada Jumat (13/2/2026). Namun hanya berselang satu hari, harganya anjlok hampir 10%, menandai penurunan tertajam dalam beberapa dekade terakhir. Hingga saat ini, emas masih kesulitan untuk kembali stabil di atas level US$ 5.000.

Bubble Spekulatif di Pasar China

Bessent menggambarkan fenomena ini sebagai ledakan spekulatif klasik. Menurutnya, otoritas di China terpaksa memperketat persyaratan margin (modal jaminan) untuk meredam gairah pasar yang terlalu panas.

Advertisement

Analis pasar mengamati adanya lonjakan aktivitas yang tidak wajar pada kontrak berjangka (futures) dan ETF emas di China. Volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange dilaporkan mencapai rata-rata 540 ton per hari, melampaui rekor tahun sebelumnya.

"Aktivitas ini didorong oleh campuran aliran dana spekulatif, baik dari investor ritel maupun institusi melalui produk keuangan yang menggunakan daya ungkit (leverage) tinggi," jelas Kepala Riset Logam di MKS Pamp Nicky Shiels, Jumat.

Mengapa investor China begitu agresif? Analis ANZ Research Zhaopeng Xing menjelaskan, terbatasnya akses investasi di China menjadi pendorong utama. Dengan jatuhnya harga properti dan rendahnya suku bunga deposito (hanya sekitar 1%), emas menjadi semacam alternatif asuransi yang sangat menarik bagi rumah tangga.

Saat ini, emas baru mencakup sekitar 1% dari aset rumah tangga di China, namun angka ini diprediksi akan melonjak hingga 5% dalam waktu dekat.

Selain faktor ritel, pemerintah China juga berperan besar dalam tren ini melalui kebijakan de-dolarisasi. Data Departemen Keuangan AS menunjukkan kepemilikan surat utang AS oleh China turun 11% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 682 miliar pada November 2025.

Sebaliknya, Bank Rakyat China (PBoC) terus menambah cadangan emasnya selama 15 bulan berturut-turut hingga mencapai sekitar 2.300 ton. Langkah strategis ini dilakukan untuk melindungi ekonomi China dari tekanan politik dan ekonomi AS.

Pergeseran Fungsi Emas di Pasar Global

Secara tradisional, emas dikenal sebagai aset safe haven atau tempat aman untuk menyimpan kekayaan saat terjadi ketidakpastian ekonomi. Namun, fenomena yang terjadi di pasar China pada 2026 menunjukkan adanya pergeseran fungsi emas menjadi instrumen perdagangan yang spekulatif.

Keterlibatan instrumen keuangan modern seperti futures dan ETF (Exchange-Traded Funds) yang disertai penggunaan leverage tinggi membuat harga emas tidak lagi hanya mencerminkan nilai intrinsiknya, melainkan juga sentimen jangka pendek para trader.

Situasi ini menciptakan tantangan baru bagi stabilitas keuangan global, karena gelembung harga (bubble) yang meletus di satu wilayah dapat memicu efek domino penjualan massal di pasar internasional lainnya. Ketegangan antara keinginan China untuk beralih dari Dolar AS dan kebutuhan akan stabilitas pasar kini menjadi fokus utama para pengamat ekonomi dunia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 12 menit yang lalu

Serangan Udara Rusia Tewaskan 14 Warga Sipil Ukraina

Rusia luncurkan 500 drone ke Ukraina menjelang Paskah, 14 warga sipil tewas. Zelenskyy tawarkan bantuan amankan Selat Hormuz dari Iran.
InveStory 19 menit yang lalu

Tantangan Organisasional Menghadapi Gap Profesionalitas Bisnis

Turnaround Garuda hanya akan berhasil jika perusahaan berhenti sekadar memonetisasi kursi dan mulai mengorkestrasi sistem nilai perusahaan.
Business 23 menit yang lalu

Lima Jurus Menghadapi Periode Kritis Produksi Beras

Stok beras di atas 4 juta ton, masyarakat tidak perlu panik.
International 26 menit yang lalu

Jet Tempur F-15 AS Jatuh di Iran, Operasi Penyelamatan Pilot Jadi Rebutan

Jet F-15 AS jatuh di Iran, operasi penyelamatan pilot jadi rebutan kedua pihak. Eskalasi perang kian meluas hingga ancam pasokan energi.
Business 53 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 55 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia