BCA (BBCA) Januari 2026: NIM Turun, Laba Tumbuh 5,76%
JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membuka awal tahun dengan laba bersih individual sebesar Rp 4,99 triliun. Perolehan ini tumbuh 12,77% month on month (mom) dan sebesar 5,76% year on year (yoy) pada Januari 2026.
Merujuk laporan keuangan BCA pada Minggu (15/2/2026), laba bersih tersebut utamanya didukung penurunan provisi dan lompatan komisi. Di sisi lain, kredit melambat dan margin yang dibukukan menyusut seiring lonjakan dari pos beban bunga.
Penyaluran kredit emiten berkode saham BBCA tersebut pada Januari 2026 mencapai Rp 948,95 triliun atau tumbuh 6,26% yoy, melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,49% yoy. Realisasi pertumbuhan kredit di awal tahun itu berada di bawah guideline BBCA tahun 2026 yang dipatok lebih agresif kisaran 8-10% (target FY25: 6-8%).
Melambatnya laju penyaluran kredit tersebut turut membuat pendapatan bunga BBCA hanya tumbuh tipis 0,21% yoy menjadi Rp 7,74 triliun. Sedangkan beban bunga terangkat cukup tinggi 8,28% yoy menjadi Rp 1,11 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dari BBCA turun 1,04% yoy menjadi Rp 6,62 triliun pada Januari 2026. Untuk pertama kalinya menjadikan NII bank bergerak ke level negatif dalam setahun terakhir.
Hal tersebut juga terpotret dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang tertekan ke level 5,35% per Januari 2026. Lebih rendah dari capaian Januari 2025 sebesar 5,91% atau Desember 2025 di posisi 5,65%. Di samping itu, posisi NIM kali ini berada di bawah rentang sasaran manajemen yang menargetkan 5,4% hingga 5,6%.
Tantangan mengenai NIM telah diungkapkan manajemen BBCA pada konferensi pers paparan kinerja 2025 lalu. Tekanan pada NIM diproyeksi bakal berlangsung pada tahun ini seiring dengan penyesuaian suku bunga bank Indonesia (BI-Rate). Alasan itu pula yang membuat target NIM tahun 2026 dipatok lebih rendah.
Namun demikian, lesunya pendapatan BBCA dari kinerja intermediasi itu terkompensasi pendapatan-pendapatan lain seperti komisi/fee yang meningkat 13,00% yoy menjadi sebesar Rp 1,71 triliun.
Provisi di awal tahun ini juga dibukukan lebih efisien dengan penurunan hingga 53,85% yoy atau sebesar Rp 262,25 miliar. Ini menjadikan cost of credit (CoC) dari BBCA konsisten berada di level rendah yaitu 0,33%, bahkan berada di bawah guidance yang ditetapkan sebesar 0,4% sampai 0,5%.
Pendanaan Tumbuh Kuat, Profitabilitas Terjaga
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






