Sabtu, 4 April 2026

BCA (BBCA) Januari 2026: NIM Turun, Laba Tumbuh 5,76%

Penulis : Prisma Ardianto
15 Feb 2026 | 15:05 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi BCA (BBCA). (Foto: Istimewa)
Ilustrasi BCA (BBCA). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membuka awal tahun dengan laba bersih individual sebesar Rp 4,99 triliun. Perolehan ini tumbuh 12,77% month on month (mom) dan sebesar 5,76% year on year (yoy) pada Januari 2026.

Merujuk laporan keuangan BCA pada Minggu (15/2/2026), laba bersih tersebut utamanya didukung penurunan provisi dan lompatan komisi. Di sisi lain, kredit melambat dan margin yang dibukukan menyusut seiring lonjakan dari pos beban bunga.

Penyaluran kredit emiten berkode saham BBCA tersebut pada Januari 2026 mencapai Rp 948,95 triliun atau tumbuh 6,26% yoy, melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,49% yoy. Realisasi pertumbuhan kredit di awal tahun itu berada di bawah guideline BBCA tahun 2026 yang dipatok lebih agresif kisaran 8-10% (target FY25: 6-8%).

Melambatnya laju penyaluran kredit tersebut turut membuat pendapatan bunga BBCA hanya tumbuh tipis 0,21% yoy menjadi Rp 7,74 triliun. Sedangkan beban bunga terangkat cukup tinggi 8,28% yoy menjadi Rp 1,11 triliun.

Advertisement

Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dari BBCA turun 1,04% yoy menjadi Rp 6,62 triliun pada Januari 2026. Untuk pertama kalinya menjadikan NII bank bergerak ke level negatif dalam setahun terakhir.

Hal tersebut juga terpotret dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang tertekan ke level 5,35% per Januari 2026. Lebih rendah dari capaian Januari 2025 sebesar 5,91% atau Desember 2025 di posisi 5,65%. Di samping itu, posisi NIM kali ini berada di bawah rentang sasaran manajemen yang menargetkan 5,4% hingga 5,6%.

Tantangan mengenai NIM telah diungkapkan manajemen BBCA pada konferensi pers paparan kinerja 2025 lalu. Tekanan pada NIM diproyeksi bakal berlangsung pada tahun ini seiring dengan penyesuaian suku bunga bank Indonesia (BI-Rate). Alasan itu pula yang membuat target NIM tahun 2026 dipatok lebih rendah.

Namun demikian, lesunya pendapatan BBCA dari kinerja intermediasi itu terkompensasi pendapatan-pendapatan lain seperti komisi/fee yang meningkat 13,00% yoy menjadi sebesar Rp 1,71 triliun.

Provisi di awal tahun ini juga dibukukan lebih efisien dengan penurunan hingga 53,85% yoy atau sebesar Rp 262,25 miliar. Ini menjadikan cost of credit (CoC) dari BBCA konsisten berada di level rendah yaitu 0,33%, bahkan berada di bawah guidance yang ditetapkan sebesar 0,4% sampai 0,5%.

Pendanaan Tumbuh Kuat, Profitabilitas Terjaga

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Finance 16 menit yang lalu

Bank Mantap Dukung Taspen Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat

PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mendukung langkah PT Taspen (Persero) dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Business 28 menit yang lalu

PLN Icon Plus Cegah Stunting melalui Kolaborasi Posyandu di Srondol Wetan

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) cegah stunting.
Lifestyle 29 menit yang lalu

Vaksinasi Wajib yang Harus Dilengkapi Calon Jamaah Haji

Berdasarkan regulasi terbaru penyelenggaraan haji 2026 dari Kementerian Kesehatan, terdapat vaksin yang wajib dipenuhi oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 4 April 2026, Cek Rinciannya

Berikut adalah daftar harga emas perhiasan dalam berbagai kadar karat pada Sabtu, 4 April 2026
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: BBCA Diborong Asing hingga Harga Emas Antam (ANTM) Runtuh

Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari BBCA diborong asing hingga harga emas Antam (ANTM) runtuh
Market 3 jam yang lalu

Harga CPO Melejit, Tren Naik Berlanjut

Harga CPO di Bursa Malaysia melejit, lanjutkan tren naik 5 pekan, didorong minyak nabati global dan lonjakan harga energi

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia