Sabtu, 4 April 2026

Emiten dengan Free Float di Bawah 15% akan Disematkan Notasi Khusus

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
20 Feb 2026 | 20:30 WIB
BAGIKAN
Karyawan sekuritas mengamati pergerakan saham. (Foto: Investor Daily/David Gita Roza)
Karyawan sekuritas mengamati pergerakan saham. (Foto: Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kebijakan peningkatan porsi kepemilikan saham publik (free float) minimal 15% akan diberlakukan secara bertahap dengan masa transisi dua tahun. Sebagai bentuk perlindungan investor, OJK bakal menyematkan notasi khusus (flagging) bagi emiten yang belum memenuhi standar likuiditas tersebut.

Pejabat Sementara (Pjs) Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa penandaan ini bertujuan untuk memudahkan publik dalam mengidentifikasi saham dengan tingkat kepemilikan publik rendah.

“Ini akan menjadi sesuatu yang baru. Akan ada notasi khusus untuk emiten-emiten yang belum memenuhi free float 15%. Dengan begitu, investor lebih mudah memilih saham yang akan mereka investasikan,” ujar Friderica dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Friderica, yang akrab disapa Kiki, menekankan bahwa saham dengan free float rendah cenderung memiliki likuiditas terbatas dan volatilitas harga yang tinggi. Oleh karena itu, notasi tersebut menjadi panduan krusial bagi investor ritel sebelum mengambil keputusan transaksi.

Advertisement

“Investor nanti bisa langsung melihat flag bahwa free float saham itu di bawah 15%. Jadi, mereka bisa tahu mana saham yang lebih likuid dan mana yang tidak,” imbuhnya.

Dalam masa transisi dua tahun ini, OJK memberikan ruang bagi emiten untuk melakukan aksi korporasi guna mendivestasikan saham ke publik. Meski begitu, regulator telah mengantongi target internal terkait jumlah emiten yang harus memenuhi standar tersebut pada tahun pertama.

Opsi Exit Policy dan Delisting

OJK menegaskan tidak akan ragu mengambil tindakan tegas bagi perusahaan tercatat yang gagal memenuhi ketentuan hingga batas waktu berakhir. Selain skema insentif yang masih dalam tahap pembahasan, regulator juga menyiapkan exit policy.

“Kalau yang tidak bisa memenuhi, maka exit policy-nya jelas. Silakan delisting (keluar) dari BEI,” tegas Kiki.

Saat ini, OJK terus menjalin diskusi dengan asosiasi emiten untuk memastikan komitmen mereka terhadap regulasi baru ini. Upaya ini merupakan bagian dari reformasi besar untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat global.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Lifestyle 5 menit yang lalu

Jadi Destinasi Favorit Libur Paskah, 30 Ribu Pengunjung Padati Kawasan Ancol

Kawasan Ancol jadi destinasi favorit masyarakat untuk mengisi libur panjang akhir pekan. Diperkirakan ada 30 ribu pengunjung datang hari ini
Market 20 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 28 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 1 jam yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia