Harga Minyak Melonjak Hampir 5%, Kekhawatiran Pasokan Meningkat
Lonjakan harga minyak juga terjadi meskipun laporan pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah di negara produsen terbesar dunia tersebut meningkat lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu. Sebaliknya, stok bensin dan bahan bakar distilat, termasuk diesel dan bahan bakar jet, justru turun lebih dalam dari perkiraan.
Kekhawatiran terhadap pasokan energi global juga meningkat setelah perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menutup kilang Ruwais akibat kebakaran yang dipicu serangan drone di kompleks fasilitas tersebut.
Sementara itu, Saudi Arabia yang merupakan eksportir minyak terbesar dunia dilaporkan berupaya meningkatkan pengiriman melalui Laut Merah. Namun, volume tambahan tersebut dinilai masih jauh dari cukup untuk menggantikan penurunan pasokan dari Selat Hormuz.
Data pelayaran menunjukkan Arab Saudi kini mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menjaga ekspor minyaknya, seiring penurunan produksi dari negara-negara Teluk seperti Iraq, Kuwait, dan United Arab Emirates.
Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang saat ini telah memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk sekitar 15 juta barel per hari. Jika kondisi ini berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 150 per barel.
Sementara itu, analis Morgan Stanley menilai sekalipun konflik dapat segera mereda, pasar energi global kemungkinan masih menghadapi gangguan pasokan selama beberapa pekan ke depan.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






