Mampukah Bitcoin (BTC) Bertahan di Tengah Krisis Minyak?
JAKARTA, investor.id – Bayang-bayang krisis energi 1973 kembali menghantui pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent kini kokoh di level US$ 100,66 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Dengan 30% pasokan minyak dunia berada dalam risiko logistik yang kritis, instrumen kripto terbesar, Bitcoin (BTC), kini berada di persimpangan jalan
Pada Senin (30/3/2026) Bitcoin diperdagangkan di level US$ 66.339,88 seperti dipantau laman Blockonomi, mencatatkan penurunan mingguan sebesar 3,45%. Namun, di balik fluktuasi harga tersebut, data on-chain dari GugaOnChain mendeteksi adanya pergerakan dana institusi senilai US$ 12,33 miliar yang tengah mengatur ulang strategi pasar dalam menghadapi tekanan ini.
Krisis minyak 1973 pernah memaksa revaluasi hampir seluruh aset global akibat gangguan pasokan. Hari ini, guncangan energi memiliki pola serupa, di mana logistik fisik menghadapi risiko blokade di jalur pelayaran utama. Di sinilah letak perbedaannya: berbeda dengan minyak, Bitcoin bergerak tanpa kapal, pipa, atau ketergantungan wilayah.
GugaOnChain menyebut Bitcoin sebagai "jalur likuiditas" yang beroperasi sepenuhnya di luar blokade fisik. Ketika distribusi minyak membeku di titik penyempitan (chokepoint), penyelesaian transaksi (settlement) Bitcoin tetap berjalan tanpa hambatan.
Kondisi ini memicu respons agresif dari investor institusi. Dari total dana US$ 12,33 miliar yang terpantau, sebanyak 93,83% atau sekitar US$ 11,57 miliar mengalir melalui meja Over-the-Counter (OTC), menjauh dari bursa publik.
Fenomena ini mengindikasikan strategi sadar untuk mengamankan Bitcoin sebagai cadangan strategis di tengah disrupsi makro, mirip dengan mereka yang memegang aset keras pada 1973 demi menjaga daya beli.
Uji Ketahanan di Zona Dukungan US$ 65.000
Rentang harga US$ 65.000 hingga US$ 70.000 kini menjadi zona dukungan (support) struktural yang krusial. GugaOnChain memperkirakan ada probabilitas sebesar 65% bahwa zona ini akan bertahan. Namun, potensi krisis likuiditas di pasar tradisional masih membayangi dengan peluang sekitar 45% hingga 50%.
Jika terjadi penarikan likuiditas besar-besaran di pasar saham atau obligasi, hal itu bisa memicu margin call yang memaksa likuidasi aset kripto untuk sementara waktu. GugaOnChain memberikan peringatan khusus pada 6 April 2026 sebagai jendela risiko tinggi atau "uji solvabilitas likuiditas global". Dalam skenario terburuk, Bitcoin bisa terkoreksi menuju level US$ 54.000.
Meskipun risiko penurunan tetap ada, akumulasi besar oleh institusi melalui jalur OTC menciptakan "lantai" struktural yang kuat. Ujian berat ini akan menentukan apakah Bitcoin benar-benar layak menyandang status sebagai aset cadangan yang kredibel di dunia yang tengah dilanda krisis energi.
Krisis minyak 1973 yang menjadi referensi dalam analisis ini bermula ketika negara-negara anggota Organization of Arab Petroleum Exporting Countries (OAPEC) melakukan embargo minyak sebagai respons politik terhadap Perang Yom Kippur.
Peristiwa tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak empat kali lipat dan memicu inflasi hebat yang berujung pada stagflasi di berbagai belahan dunia selama bertahun-tahun.
Pada 2026, situasi di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran serupa karena jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi global. Munculnya Bitcoin sebagai aset yang terdesentralisasi memberikan dimensi baru dalam teori manajemen risiko.
Berbeda dengan emas fisik yang sulit dipindahkan dalam situasi konflik atau minyak yang bergantung pada jalur laut, Bitcoin menawarkan mobilitas nilai secara digital. Artikel ini menyoroti apakah keunggulan teknologi tersebut cukup kuat untuk menahan tekanan ekonomi makro yang secara historis selalu melumpuhkan aset-aset tradisional.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






