Minggu, 21 Juni 2026

Hampir Separuh Pasokan Bitcoin (BTC) Saat Ini dalam Posisi Merugi

Penulis : Grace El Dora
31 Mar 2026 | 10:28 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bitcoin (BTC).
Ilustrasi Bitcoin (BTC).

JAKARTA, investor.id – Pasar kripto kembali memberikan sinyal peringatan bagi para investor. Laporan terbaru dari CEX.io Research mengungkapkan sekitar 9,4 juta Bitcoin (BTC), atau setara dengan 47% dari total pasokan yang beredar, saat ini berada dalam posisi kerugian yang belum direalisasikan (unrealized losses).

Data ini menunjukkan hampir setengah dari pemilik Bitcoin di seluruh dunia memegang aset dengan harga beli yang lebih tinggi daripada harga pasar saat ini.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi para pemegang jangka panjang (long-term holders). Laporan tersebut mencatat lebih dari 30% Bitcoin yang dimiliki oleh kelompok ini, senilai US$ 304 miliar, kini sedang "tenggelam" atau merugi. Ini merupakan proporsi kerugian tertinggi yang tercatat sejak 2023.

"Para pemegang jangka panjang kini mulai menjual aset mereka pada tingkat kerugian terdalam dalam tiga tahun terakhir. Kecepatan pembalikan tren ini mengindikasikan adanya penurunan kepercayaan yang tajam," tulis laporan CEX.io yang dikutip Decrypt, Selasa (31/3/2026).

ADVERTISEMENT

Meskipun harga Bitcoin sempat merangkak naik perlahan dalam beberapa minggu terakhir, jumlah pemegang aset yang masih menikmati keuntungan justru terus menyusut. Anomali ini sering dianggap sebagai sinyal bahaya dalam analisis teknikal.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 66.567. Namun, aset kripto terbesar ini telah terkoreksi sekitar 6% dalam sepekan terakhir, dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik di Iran yang memengaruhi sentimen pasar global.

Indeks Dampak Bitcoin (Bitcoin Impact Index) milik CEX.io, yang mengukur tingkat stres investor terkait tekanan jual, telah masuk dalam kategori "Dampak Tinggi". Secara historis, pola divergensi antara pergerakan harga dan keyakinan investor ini pernah terjadi pada pertengahan 2018 dan 2022, yang kemudian diikuti oleh kejatuhan harga lebih dari 25%.

Jika sejarah terulang kembali dan Bitcoin turun sebesar 25% lagi, harganya bisa merosot hingga ke bawah level US$ 50.000 untuk pertama kalinya sejak Februari 2024. Sebagai catatan, saat ini Bitcoin sudah turun sekitar 47% dari rekor tertinggi sepanjang masanya di angka US$ 126.080 yang dicapai pada Oktober 2025.

Harapan di Tengah Tekanan

Meski situasi tampak suram, ada satu faktor yang menahan pasar dari kehancuran total: para investor belum berbondong-bondong memindahkan Bitcoin mereka ke bursa (exchange) untuk segera dijual. Hal ini mencegah penurunan harga menjadi lebih ekstrem, mirip dengan kondisi pada awal Februari 2026.

Sejumlah lembaga keuangan juga memberikan prediksi beragam. Standard Chartered memproyeksikan Bitcoin bisa menyentuh angka US$ 50.000 sebelum akhirnya memantul kembali menuju US$ 100.000.

Sementara itu, CryptoQuant memperkirakan titik dasar pasar lesu (bear market bottom) berada di kisaran US$ 55.000.

Fenomena "pemegang aset merugi" adalah bagian dari siklus pasar kripto yang dikenal dengan istilah On-Chain Realized Price. Angka 47% muncul karena banyak investor, baik ritel maupun institusi, melakukan pembelian saat harga Bitcoin sedang berada di fase euforia (puncak harga).

Ketika harga terkoreksi akibat faktor makroekonomi atau ketegangan geopolitik, nilai pasar aset mereka menjadi lebih rendah dibandingkan modal awal yang dikeluarkan.

Kondisi ini sangat krusial karena psikologi investor jangka panjang biasanya menjadi fondasi stabilitas harga.

Jika kelompok ini mulai kehilangan kepercayaan dan melakukan aksi jual paksa (panic selling), maka likuiditas akan membanjiri bursa dan menciptakan tekanan turun yang lebih dalam. Sebaliknya, jika mereka memilih untuk bertahan (holding), pasar memiliki kesempatan untuk melakukan konsolidasi sebelum memulai fase pemulihan menuju rekor harga baru.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 32 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia