Hampir Separuh Pasokan Bitcoin (BTC) Saat Ini dalam Posisi Merugi
JAKARTA, investor.id – Pasar kripto kembali memberikan sinyal peringatan bagi para investor. Laporan terbaru dari CEX.io Research mengungkapkan sekitar 9,4 juta Bitcoin (BTC), atau setara dengan 47% dari total pasokan yang beredar, saat ini berada dalam posisi kerugian yang belum direalisasikan (unrealized losses).
Data ini menunjukkan hampir setengah dari pemilik Bitcoin di seluruh dunia memegang aset dengan harga beli yang lebih tinggi daripada harga pasar saat ini.
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi para pemegang jangka panjang (long-term holders). Laporan tersebut mencatat lebih dari 30% Bitcoin yang dimiliki oleh kelompok ini, senilai US$ 304 miliar, kini sedang "tenggelam" atau merugi. Ini merupakan proporsi kerugian tertinggi yang tercatat sejak 2023.
"Para pemegang jangka panjang kini mulai menjual aset mereka pada tingkat kerugian terdalam dalam tiga tahun terakhir. Kecepatan pembalikan tren ini mengindikasikan adanya penurunan kepercayaan yang tajam," tulis laporan CEX.io yang dikutip Decrypt, Selasa (31/3/2026).
Meskipun harga Bitcoin sempat merangkak naik perlahan dalam beberapa minggu terakhir, jumlah pemegang aset yang masih menikmati keuntungan justru terus menyusut. Anomali ini sering dianggap sebagai sinyal bahaya dalam analisis teknikal.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 66.567. Namun, aset kripto terbesar ini telah terkoreksi sekitar 6% dalam sepekan terakhir, dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik di Iran yang memengaruhi sentimen pasar global.
Indeks Dampak Bitcoin (Bitcoin Impact Index) milik CEX.io, yang mengukur tingkat stres investor terkait tekanan jual, telah masuk dalam kategori "Dampak Tinggi". Secara historis, pola divergensi antara pergerakan harga dan keyakinan investor ini pernah terjadi pada pertengahan 2018 dan 2022, yang kemudian diikuti oleh kejatuhan harga lebih dari 25%.
Jika sejarah terulang kembali dan Bitcoin turun sebesar 25% lagi, harganya bisa merosot hingga ke bawah level US$ 50.000 untuk pertama kalinya sejak Februari 2024. Sebagai catatan, saat ini Bitcoin sudah turun sekitar 47% dari rekor tertinggi sepanjang masanya di angka US$ 126.080 yang dicapai pada Oktober 2025.
Harapan di Tengah Tekanan
Meski situasi tampak suram, ada satu faktor yang menahan pasar dari kehancuran total: para investor belum berbondong-bondong memindahkan Bitcoin mereka ke bursa (exchange) untuk segera dijual. Hal ini mencegah penurunan harga menjadi lebih ekstrem, mirip dengan kondisi pada awal Februari 2026.
Sejumlah lembaga keuangan juga memberikan prediksi beragam. Standard Chartered memproyeksikan Bitcoin bisa menyentuh angka US$ 50.000 sebelum akhirnya memantul kembali menuju US$ 100.000.
Sementara itu, CryptoQuant memperkirakan titik dasar pasar lesu (bear market bottom) berada di kisaran US$ 55.000.
Fenomena "pemegang aset merugi" adalah bagian dari siklus pasar kripto yang dikenal dengan istilah On-Chain Realized Price. Angka 47% muncul karena banyak investor, baik ritel maupun institusi, melakukan pembelian saat harga Bitcoin sedang berada di fase euforia (puncak harga).
Ketika harga terkoreksi akibat faktor makroekonomi atau ketegangan geopolitik, nilai pasar aset mereka menjadi lebih rendah dibandingkan modal awal yang dikeluarkan.
Kondisi ini sangat krusial karena psikologi investor jangka panjang biasanya menjadi fondasi stabilitas harga.
Jika kelompok ini mulai kehilangan kepercayaan dan melakukan aksi jual paksa (panic selling), maka likuiditas akan membanjiri bursa dan menciptakan tekanan turun yang lebih dalam. Sebaliknya, jika mereka memilih untuk bertahan (holding), pasar memiliki kesempatan untuk melakukan konsolidasi sebelum memulai fase pemulihan menuju rekor harga baru.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






