Sinyal Damai di Iran Picu Gairah Pasar, Bitcoin (BTC) Menanjak Lagi
SINGAPURA, investor.id – Aset kripto bergerak selaras dengan pasar saham dan obligasi di Asia pada perdagangan Selasa (31/3/2026) siang. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme investor merespons laporan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran lebih cepat dari perkiraan.
Harga Bitcoin sempat melonjak hingga 2,6% ke level US$ 68.335 (sekitar Rp 1,1 miliar), sebelum terkoreksi tipis dan diperdagangkan di kisaran US$ 68.000 pada pukul 13.20 waktu Singapura. Tidak hanya Bitcoin, aset kripto lainnya seperti Ether naik 3,3%, sementara Solana dan XRP masing-masing menguat 2,2% dan 1,5%.
Gairah pasar muncul setelah Wall Street Journal yang dikutip Bloomberg internasional melaporkan Trump memberikan instruksi kepada para penasihatnya mengenai kemungkinan menghentikan kampanye militer terhadap Iran. Menariknya, operasi ini bisa dihentikan meskipun Selat Hormuz belum dibuka kembali sepenuhnya.
Sinyal berakhirnya konflik ini langsung membalikkan keadaan di pasar modal, di mana kontrak berjangka S&P 500 berbalik menguat sekitar 1%.
"Pasar mengantisipasi Trump ingin segera keluar dari perang ini," ujar manajer portofolio Apollo Crypto Pratik Kala, Selasa. Ia juga mencatat harga Bitcoin menunjukkan daya tahan yang luar biasa kuat di kisaran level US$ 68.000.
Bitcoin Lebih Tangguh Dibanding Emas
Sepanjang Maret 2026, Bitcoin menunjukkan resiliensi yang menarik di tengah ketidakpastian global. Saat pasar saham dan emas rontok akibat kekhawatiran inflasi dan krisis energi, Bitcoin justru mencatatkan kenaikan sekitar 3%. Sebagai perbandingan, harga emas telah anjlok lebih dari 13% pada bulan ini.
Kondisi ini membuat pasar kripto terlihat relatif stabil dalam beberapa minggu terakhir, terutama setelah sempat mengalami aksi jual besar-besaran pada Oktober 2025 yang membuat harga Bitcoin jatuh 45% dari rekor tertingginya di angka US$ 126.000.
Meskipun optimisme mulai tumbuh, sebagian investor masih bersikap waspada. Data dari platform opsi kripto, Deribit, menunjukkan adanya kontrak put (taruhan harga turun) senilai lebih dari US$ 1,5 miliar pada level harga US$ 60.000 sebagai bentuk perlindungan jika pasar kembali jatuh.
Namun, para analis memperkirakan tekanan jual ini akan mereda dalam dua minggu ke depan seiring menguatnya sentimen perdamaian.
Sejak pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari 2026, perilaku pasar keuangan mengalami pergeseran drastis. Secara tradisional, emas adalah aset utama yang dicari investor saat terjadi ketidakpastian geopolitik. Namun, dalam krisis kali ini, Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik sebagai "emas digital" yang kompetitif.
Ketangguhan Bitcoin di tengah anjloknya harga emas pada Maret 2026 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, gangguan pada rantai pasok fisik dan logistik akibat penutupan Selat Hormuz mempersulit perdagangan komoditas fisik.
Kedua, adopsi institusional yang semakin matang membuat Bitcoin dipandang sebagai aset yang tidak terikat langsung pada sistem perbankan tradisional yang terdampak perang.
Sinyal perdamaian dari pemerintahan Trump menjadi titik balik penting. Jika ketegangan mereda, likuiditas diperkirakan akan kembali mengalir deras ke aset berisiko (risk assets) sehingga memperkuat posisi Bitcoin untuk kembali mengejar rekor tertinggi barunya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






