Minggu, 21 Juni 2026

Harga Bitcoin (BTC) Rontok Parah, Ketegangan AS dan Iran Picu Aksi Jual

Penulis : Indah Handayani
13 Apr 2026 | 06:35 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bitcoin (BTC).
Ilustrasi Bitcoin (BTC).

JAKARTA, investor.id Pasar kripto ambles pada Senin (13/4/2026) pagi. Bahkan, harga Bitcoin (BTC) rontok parah, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.15 WIB, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 3% menjadi US$ 2,41 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini jatuh 3,34% ke US$ 70.636 per koin atau sekitar Rp 1,2 miliar (kurs Rp 17.089).

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar ambrol 3,09%. Dengan Ethereum ambruk 4,18% ke US$ 2.188, Binance (BNB) terkoreksi 2,56% ke US$ 592, Dogecoin (DOGE) melemah 2,59% ke US$ 0,09, Solana (SOL) terpangkas 3,9% ke US$ 81,5, dan XRP turun 2,24% ke US$ 1,32.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari CoinTelegraph, penurunan harga bitcoin (BTC) ini terjadi setelah perundingan untuk mengakhiri konflik kedua negara yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Data dari TradingView menunjukkan harga Bitcoin melemah sekitar 3% menjelang penutupan perdagangan mingguan.

Kegagalan negosiasi dipicu oleh perbedaan tajam terkait isu nuklir, yang membuat kedua delegasi meninggalkan meja perundingan tanpa hasil. Situasi semakin memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan memblokade Selat Hormuz dan menghentikan kapal-kapal yang membayar Iran untuk melintas.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Analis dari The Kobeissi Letter menilai, eskalasi konflik berpotensi membawa ekonomi global ke fase baru yang lebih berisiko.

Menurut mereka, jika perang berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, inflasi AS bisa melonjak hingga di atas 4%. Saat ini, inflasi berdasarkan indikator Consumer Price Index (CPI) telah naik dari 2,4% menjadi 3,3%. “Jika konflik terus meningkat, maka aset berisiko akan semakin tertekan,” tulis Kobeissi dalam analisis terbarunya.

Volatilitas Pasar Tinggi

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 1 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 32 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia