Harga Emas Tertekan, Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Inflasi
BENGALURU, investor.id – Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin (13/4/2026). Gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak yang berujung pada kekhawatiran inflasi, sekaligus memupus harapan pasar akan penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) tahun ini.
Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 0,6% ke level US$ 4.719,54 per ons seperti dipantau Reuters, Senin. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni merosot 1% ke posisi US$ 4.741,70.
Pelemahan emas ini beriringan dengan menguatnya indeks dolar AS ke level tertinggi dalam sepekan terakhir. Penguatan dolar membuat emas, yang dipatok dalam mata uang greenback, menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Imbas Blokade Selat Hormuz
Situasi kian memanas setelah militer AS mengumumkan akan memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim di pelabuhan dan wilayah pesisir Iran mulai Senin ini. Langkah drastis ini merupakan respons atas kebuntuan dialog di Islamabad akhir pekan lalu.
Menanggapi hal tersebut, Garda Revolusi Iran memperingatkan kehadiran kapal militer asing di dekat Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan dihadapi dengan tindakan tegas.
"Tanpa adanya terobosan diplomatik, risiko perang yang lebih luas kembali diantisipasi pasar. Hal ini mengancam lonjakan biaya energi dan membuat The Fed berpotensi bersikap lebih agresif," ujar analis MarketPulse oleh OANDA Zain Vawda.
Proyeksi Suku Bunga dan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$ 100 per barel memperkuat prediksi bahwa inflasi akan sulit dikendalikan. Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga oleh The Fed pada Desember mendatang menyusut menjadi hanya 16%, turun dari 21% pada hari sebelumnya.
Meskipun emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik, statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding) membuatnya kurang menarik ketika suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lama.
Sejak konflik AS-Israel dengan Iran meletus pada 28 Februari 2026, harga emas spot secara kumulatif telah anjlok lebih dari 10%. Para analis memprediksi jika harga terus tertekan, emas bisa merosot hingga ke level US$ 4.100 per ons jika resolusi damai tak kunjung tercapai.
Ketegangan di Selat Hormuz selalu menjadi titik balik bagi ekonomi dunia karena statusnya sebagai jalur distribusi utama energi global. Blokade yang diumumkan oleh Amerika Serikat pada April 2026 ini menambah beban berat pada rantai pasok yang belum sepenuhnya pulih sejak awal konflik.
Keterkaitan antara harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga AS menjadi lingkaran setan bagi aset safe haven seperti emas. Di satu sisi, ketidakpastian perang mendorong investor mencari keamanan. Namun di sisi lain, ancaman inflasi yang memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi justru menekan harga logam mulia.
Dinamika ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar finansial global terhadap setiap perkembangan militer dan diplomasi di kawasan Teluk.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






