Harga Bitcoin (BTC) Naik ke Level Psikologis, tapi Momentum Masih Tertahan
Sejak Senin, posisi bearish Bitcoin telah mengalami likuidasi paksa sebesar US$ 365 juta, yang secara alami mengurangi jaminan (collateral) pada posisi short. Dalam situasi ini, trader kemungkinan memilih bertahan dibanding menambah margin, dengan harapan funding rate akan menyesuaikan dengan sendirinya.
Dengan demikian, funding rate negatif lebih mencerminkan kerugian pelaku bearish, bukan keyakinan pasar yang kuat.
Pergerakan intraday Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir juga cenderung sejalan dengan indeks S&P 500. Meski pasar saham AS mencetak rekor tertinggi pada Kamis, Bitcoin masih jauh dari puncaknya di level US$ 126.200.
Kegagalan berulang untuk menembus kembali level US$ 76.000 menjadi salah satu faktor yang menahan minat di pasar derivatif BTC. Meski demikian, data ekonomi terbaru AS justru memberikan dukungan bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Produksi industri AS tercatat turun 0,5% pada Maret dibanding bulan sebelumnya, menurut data The Fed. Penurunan terbesar terjadi pada sektor barang tahan lama, terutama otomotif yang turun 2,8%. Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan meningkat 31.000 menjadi 1,818 juta pada pekan yang berakhir 4 April.
Menariknya, kondisi ini justru mendorong penguatan pasar saham, karena meningkatkan ekspektasi adanya stimulus tambahan dari pemerintah. Di sisi lain, tekanan inflasi, yang juga dipicu kenaikan harga minyak, membuat investasi berbasis pendapatan tetap (fixed income) menjadi kurang menarik.
Dari sisi pasar opsi, tidak terlihat adanya lonjakan permintaan perlindungan terhadap penurunan harga Bitcoin. Premi opsi jual (put) di platform Deribit justru tertinggal dibandingkan opsi beli (call) dalam sepekan terakhir.
Selain itu, aliran dana masuk sebesar US$ 921 juta ke ETF spot Bitcoin di AS dalam lima hari terakhir, serta aksi akumulasi oleh perusahaan Strategy (MSTR), turut memperkuat kepercayaan investor.
Secara keseluruhan, funding rate negatif Bitcoin saat ini belum menjadi sinyal bahaya, terutama karena permintaan dari investor institusi di pasar spot masih tetap kuat.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






