Omicron Meledak,Epidemiolog Soroti Lambatnya ProsesTracingPuskesmas
JAKARTA, investor.id - Fenomena klaster pembelajaran tatap muka (PTM) yang berimbas ke keluarga harus secepatnya dihentikan. Siswa yang terinfeksi pun harus di-testing di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat seperti puskesmas dan keluarganya di-tracing.
Namun dari pengamatan Beritasatu.com, ada beberapa siswa yang mengalami proses tracing sangat lambat. Pelayanan petugas puskesmas tidak maksimal alias tidak menyenangkan karena justru dialihkan ke puskesmas lain.
Menanggapi hal ini, Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan seharusnya pihak puskesmas melayani warga (siswa) yang diduga tertular dari klaster sekolah tanpa alasan apapun.
"Warga atau pasien selayaknya mendapatkan pelayanan yang terbaik, ketika ada yang minta dilakukan tes PCR dan tracing, ya seharusnya diberikan atau layani," katanya kepada Beritasatu.com, Sabtu (5/2/2022).
Namun, ketika pasien tersebut disuruh melapor ke puskesmas lain dan menunggu sampai keesokan harinya, biasanya ada sesuatu yang menjadi pertimbangan. "Kemungkinan tenaga tracer (orang yang melakukan tracing) sangat terbatas dan hanya ada 1 di puskesmas kelurahan dan itu pun banyak yang tidak berjalan atau kecamatan hanya ada 1 juga. Ini artinya kan sangat terbatas sekali. Makanya dilempar ke tempat lain yang lebih besar," jelas dia.
Ia mencontohkan wilayah Depok bahwa pihak tracer-nya sudah kewalahan karena banyaknya masyarakat yang terpapar Covid-19. Hal ini karena Depok masuk salah satu wilayah penyumbang terbanyak kasus terkonfirmasi virus Corona.
"Sebenarnya jangan sampai sistemnya kewalahan, yang berakibat pasien-pasien tidak akan terlayani dengan baik. Saya juga pernah alami hal yang sama, ditolak dinas kesehatan setempat dan saya tanyakan bagaimana aturan mainnya," urai Tri Yunis.
Ternyata, saat diselidiki hal ini disebabkan kasus tinggi di wilayah, pasien banyak dan tenaga tracer sangat terbatas. Seharusnya wilayah Depok membuka hotline dan mengumumkan semua pasien reaktif harus lakukan PCR, meski kenyataannya tidak semua kasus melakukan hal tersebut.
"Namun hal ini bisa dilakukan kalau seandainya ditemukan kasus varian Omicron di Depok, maka pihak puskesmas pastinya cepat lakukan PCR dan testing serta tracing. Saya juga sedih dengan sistem yang lemah ini dan dibiarkan saja oleh pemerintah," ucap dia.
Sebelumnya Cerry yang bersekolah di salah satu SMP di Depok pada Jumat (28/2/2022) disampaikan gurunya bahwa ada teman sekelas yang positif Covid-19.
Maka seluruh siswa di kelas tersebut diminta untuk melakukan tes Covid-19 secara mandiri.
Cerry sendiri pada Sabtu (29/2/2022), sudah mulai merasakan demam panas. Kemudian malamnya atas inisiatif kedua orangtuanya melakukan tes antigen dan hasilnya menunjukkan reaktif Covid-19.
Keesokan harinya, orang tuanya membawa Cerry ke puskesmas dekat rumah. Namun sayangnya mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan dari pihak puskesmas yang tidak langsung dilayani, dengan alasan kasusnya sudah dianggap positif, sehingga harus dilaporkan ke faskes lainnya yang dinilai lebih lengkap.
Cerry menilai mengapa dirinya dan keluarga harus menunggu sampai keesokan harinya, mengingat penularan ini dari klaster sekolah dan bisa merambah ke klaster keluarga. Pihak puskesmas tersebut kemudian memberikan pendampingan kepada Cerry untuk dirujuk ke puskesmas di Depok juga. Selanjutnya pada Senin (31/1/2022), ia melakukan tes PCR mandiri dan hasilnya positif Covid-19.
Kemudian pihak keluarga tetap melaporkan kejadian itu ke puskesmas di Depok dan dijadwalkan tracing keluarga di puskesmas Depok pada Rabu (2/2/2022) pagi atau 3 hari setelah Cerry diketahui positif Covid. Hasil tracing diterima keluarga Regina (Ibu Cerry) pada Jumat (4/2/2022). Hasilnya Ayah Cerry positif, dan 5 anggota keluarga lainnya dinyatakan negatif.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


