Jokowi Sebut jika Lockdown saat Awal Pandemi, Rakyat Bisa Rusuh
26 Jan 2023 | 11:32 WIB
JAKARTA, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan pengalamannya saat awal-awal masa pandemi Covid-19, terutama perihal lockdown.
Ketika itu, muncul tekanan dari sejumlah pihak, mulai dari menteri, DPR, dan partai yang meminta Jokowi untuk mengambil kebijakan lockdown seperti negara lain.
“Saat memutuskan lockdown atau enggak lockdown, rapat menteri 80%, ‘Pak, lockdown karena semua negara memang melakukan itu'. Enggak dari DPR, enggak dari partai. Semuanya lockdown," ungkap Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional Transisi Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) Tahun 2023, Kamis (26/1/2023).
Menurut Jokowi, dalam situasi krisis dan penuh tekanan, diperlukan kejernihan berpikir untuk mengambil keputusan. Keputusan yang terburu-buru justru akan menimbulkan kesalahan.
Jokowi memperkirakan, jika saat itu diputuskan lockdown, dalam waktu dua atau tiga minggu rakyat bisa rusuh karena tidak dapat mencari nafkah.
"Coba misalnya kita putuskan lockdown, hitungan saya dalam dua atau tiga minggu rakyat sudah enggak bisa, enggak memiliki peluang, kecil untuk mencari nafkah. Semuanya ditutup. Negara tidak bisa memberikan bantuan kepada rakyat, apa yang terjadi? Rakyat pasti rusuh," tuturnya.
Jokowi menegaskan, hal itu menjadi pertimbangannya untuk memutuskan tidak lockdown. Bahkan Jokowi mengaku menjalani semedi selama tiga hari untuk memutuskan tidak lockdown.
"Saya semedi tiga hari,” ucap Jokowi sambil tersenyum, yang disambut tawa kecil peserta rakornas.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




