Minggu, 21 Juni 2026

Perang Dagang Bisa Tereskalasi Jelang Pilpres AS

Penulis : Vinnilya Huanggrio
29 Mei 2024 | 15:06 WIB
BAGIKAN
Tangkapan layar bincang-bincang dengan Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana pada Rabu (29/5/2024). (Sumber: B Universe)
Tangkapan layar bincang-bincang dengan Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana pada Rabu (29/5/2024). (Sumber: B Universe)

JAKARTA, investor.id – Perang dagang atau trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa kembali tereskalasi, menjelang pemilihan presiden (pilpres) AS. Apalagi saat mendekati Pilpres yang dijadwalkan terlaksana pada 5 November 2024 mendatang.

Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai pasca pilpres AS (US election), tepatnya tahun depan, kemungkinan isu tersebut baru sedikit mereda.

“Namun kalau sekarang saya rasa itu masih akan menjadi isu panas di AS,” ujar Wawan Hendrayana dalam Investor Market Opening IDTV, Rabu (29/5/2024).

ADVERTISEMENT

Wawan memaparkan, ada dua kandidat kuat presiden yang akan maju dalam Pilpres AS 2024 yakni Joe Biden dan Donald Trump. Keduanya sudah memiliki stance dengan memanfaatkan isu perang dagang ini untuk mendapatkan dukungan publik di AS secara politik.

Dengan demikian, ada kemungkinan terjadi eskalasi perang dangang yang berpotensi mengakibatkan pelemahan ekonomi global.

“Sangat mungkin, sebetulnya kalau kita bicara tentang China sendiri bukan tidak terpengaruh dengan perang dagang. Mereka juga sudah mulai melambat ekonominya dan supply chain sendiri, pabrik-pabrik manufaktur sudah banyak yang keluar dari China ke beberapa negara yang ada di Asia dan Meksiko,” terangnya.

Kendati demikian, lanjut Wawan, di satu sisi memang mesin utama penggerak ekonomi dunia yaitu China mengalami perlambatan. Namun secara regional sebetulnya mulai ada perekonomian lain yang menguat akibat dari kebijakan perang dagang ini, kata dia.

“Memang tahun ini masih cukup berat untuk perekonomian dunia, tetapi harapannya ke depan akan lebih baik,” lanjut Wawan.

Sebagai informasi, Presiden AS Joe Biden menaikkan tarif barang-barang impor China pada Selasa (14/5/2024). Tarif baru yang ketat ini digadang-gadang pemerintah AS dapat melindungi industri AS dari persaingan tidak sehat.

Namun di sisi lain bisa berdampak negatif terhadap perekonomian, lantaran menyulut perang dagang antara AS dan China.

Kenaikan tarif tersebut tentu membuat China tidak tinggal diam, karena ada kemungkinan pembalasan tarif. Perang dagang China dan AS pernah terjadi pada 2018 dan sempat membuat ekonomi dunia melemah, serta memicu ketidakpastian di pasar saham global.

“Dengan demikian, tingkat inflasi global sulit melandai dan mempertajam narasi higher for longer rates. Tingkat suku bunga yang tinggi dalam waktu lebih lama akan berpotensi menarik modal asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri (capital outflow), khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia,” tandasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 5 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 5 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 5 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 6 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia