Dua Bulan Perang, Ekonomi RI Tangguh Meski Tekanan Mulai Terasa
JAKARTA, investor.id – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang telah memasuki bulan kedua mulai memberikan dampak nyata bagi perekonomian dunia. Meski demikian, para pakar menilai ekonomi Indonesia saat ini masih menunjukkan ketahanan (resiliensi) yang cukup solid di tengah ketidakpastian global.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menjelaskan, faktor geopolitik kini menjadi variabel paling dominan yang memengaruhi ekonomi internasional maupun domestik.
"Secara umum ekonomi kita masih cukup resilien, tetapi dampaknya mulai terasa. Apalagi jika eskalasi perang ini tidak segera berakhir," ujar Eko dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Ancaman Jalur Energi di Selat Hormuz
Salah satu titik paling krusial yang diwaspadai adalah potensi krisis di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi energi dunia, di mana sekitar 20% hingga 25% pasokan minyak global melintasi kawasan tersebut. Gangguan pada jalur ini dipastikan akan memicu lonjakan harga energi yang signifikan, mengingat Indonesia juga bergantung pada pasokan dari wilayah itu.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia telah melakukan langkah diplomasi progresif, termasuk menjalin komunikasi dengan Rusia untuk mengamankan komitmen pasokan energi alternatif. Langkah ini diharapkan mampu menjadi bantalan (buffer) bagi stabilitas ekonomi nasional.
Beban APBN dan Harga BBM Non-Subsidi
Hingga saat ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih cukup kuat untuk menyerap tekanan fiskal akibat konflik tersebut. Namun, Eko memberikan catatan khusus pada sektor energi non-subsidi.
Harga bahan bakar dengan RON tinggi kini mulai mengikuti fluktuasi harga internasional atau harga keekonomian. Hal ini berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi daya beli masyarakat serta biaya operasional pelaku usaha.
"Secara keseluruhan dampak masih bisa diserap oleh APBN, tetapi ada titik-titik tertentu yang mulai terasa, terutama pada BBM non-subsidi," pungkas Eko.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang memisahkan Teluk Oman dengan Teluk Persia. Jalur ini menjadi vital karena merupakan satu-satunya akses laut menuju pelabuhan-pelabuhan besar di negara eksportir minyak utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.
Setiap hari, jutaan barel minyak mentah dan produk minyak olahan dikirim melalui selat ini untuk memenuhi kebutuhan energi di Asia, Eropa, hingga Amerika Utara. Bagi Indonesia, kestabilan jalur ini krusial tidak hanya untuk memastikan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan inflasi impor (imported inflation).
Jika terjadi penutupan atau gangguan keamanan di jalur ini, harga minyak mentah dunia bisa melonjak tajam, yang pada gilirannya akan membebani subsidi energi di dalam negeri.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






