Risiko Inflasi Tinggi
Dunia saat ini sedang mengalami gelombang inflasi di mana-mana dan merambah hampir semua negara, terlepas apakah itu negara maju atau negara-negara berkembang. Melihat data inflasi terakhir di beberapa negara maju memperlihatkan angka abnormal, yang membuat para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menjadi semakin resah.
Angka inflasi di Amerika Serikat pada Juni 2022 telah mencapai 9,1% (year on year/yoy), sebuah angka tertinggi selama kurun waktu 41 tahun terakhir. Pencapaian angka inflasi tersebut di luar perkiraan para ekonom yang sebelumnya meramalkan inflasi di negara Pam Sam tersebut di kisaran 8,2%-8,8%.
Inflasi di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa juga melonjak luar biasa, seperti di Inggris yang mencapai 9,1%, Jerman 7,6%, Spanyol 10,2%, dan Italia 8,0%. Sedangkan inflasi di Kanada juga menyentuh angka 7,7% pada Mei 2022 dan diperkirakan akan terus mengalami kenaikan pada bulan-bulan berikutnya.
Jepang sebagai salah satu lokomotif ekonomi global, justru tidak menunjukkan kenaikan angka inflasi yang sangat berlebihan seperti di negara-negara maju lainnya. Inflasi terakhir pada bulan Mei 2022 masih moderat di angka 2,4%, walaupun angka itu sudah dianggap di luar kebiasaan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa angka inflasi di Jepang tidak separah di negara-negara Barat. Beberapa penyebabnya adalah karena para pekerja tidak menuntut kenaikan upah yang sangat tinggi, sehingga para pemilik usaha tidak perlu menaikkan ongkos produksi yang akan dibebankan kepada konsumen.
Demikian halnya dengan angka inflasi di Tiongkok yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan saat pemulihan ekonomi tahun 2021 kemarin. Laju inflasi Tiongkok pada Juni 2022 berada di angka 2,5%, sebuah angka yang rendah mengingat peran Tiongkok sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia. Rendahnya angka inflasi tersebut tidak terlepas dari zero Covid policy yang dianut oleh pemerintah Tiongkok, sehingga mengurangi permintaan maupun produksi barang dan jasa.
Sedangkan angka inflasi di belahan dunia lainnya, seperti di Amerika Latin, juga menunjukkan tren yang sama. Kita lihat angka inflasi di Argentina mencapai 60,7% pada Juni 2022, Venezuela sebesar 167%, dan Brasil mencapai 11,9%. Di Korea Selatan angka inflasi pada Juni 2022 menyentuh angka 6,0%, dan India 7,0%.
Sedangkan negara-negara di Asia Tenggara juga mengalami kejadian serupa, seperti inflasi yang terjadi di Thailand mencapai 7,7%, Singapura 5,6%, Filipina 6,1%, dan Indonesia sebesar 4,4%.
Adapun inflasi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika juga memiliki kenaikan di luar batas-batas normal. Inflasi di Mesir mencapai 14,6% pada Juni 2022, sedangkan Tunisia 8,1%, dan Afrika Selatan 6,5%.
Data-data di atas memperlihatkan kepada kita semua bahwa meroketnya angka inflasi yang terjadi serentak di hampir semua belahan dunia tersebut, bukan lagi sebuah kasus nasional atau regional. Melainkan sebuah fenomena global yang perlu diberikan perhatian serius.
Peran Inflasi
Inflasi memiliki peran penting sebagai salah satu indikator dalam perekonomian modern untuk mengetahui kinerja ekonomi dari suatu negara. Hal ini sangat masuk akal mengingat inflasi merupakan suatu proses dari adanya peristiwa yang menyebabkan harga barang naik atau turun. Masyarakat dengan mudah bisa mengenali gejala terjadinya inflasi yang naik di saat harga-harga barang dan jasa mengalami kenaikan di pasar.
Dalam sistem ekonomi yang terbuka seperti sekarang ini, harga barang dan jasa sangat ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Sehingga mekanisme permintaan pasar yang terjadi tersebut akan memicu terjadinya inflasi atau sebaliknya terjadi deflasi. Di samping itu, naik turunnya inflasi akan berimbas pada kebijakan-kebijakan lainnya, khususnya kebijakan ekonomi makro dan moneter.
Risiko Inflasi Tinggi
Tingkat inflasi yang rendah merupakan target yang diimpikan oleh hampir semua negara, karena dengan dukungan inflasi rendah maka pertumbuhan ekonomi dapat dipicu setinggi mungkin. Namun sebaliknya, inflasi yang tinggi menimbulkan berbagai turunan risiko lainnya yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Pertama, inflasi yang tinggi menjadikan nilai uang akan mengalami penurunan. Sebagai contoh, angka inflasi sebesar 20% memberikan makna bahwa purchasing power of money menjadi berkurang sebesar 20%. Misalnya, dengan uang Rp 100.000 tahun lalu kita bisa membeli beras sebanyak 2,5 kg, namun dengan kenaikan inflasi tahun ini sebesar 20%, maka beras yang kita beli mungkin hanya sekitar 2 kg saja.
Kedua, dengan menurunnya nilai uang karena harga-harga melambung, maka jumlah penduduk miskin akan bertambah banyak. Pendapatan atau upah yang diterima seseorang tidak bisa dinaikkan setiap saat, sementara kenaikan harga barang dan jasa terjadi setiap saat. Adanya gap seperti inilah yang menyebabkan pendapatan seseorang tidak lagi mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketiga, uang yang biasanya ditabung terpaksa dipergunakan untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya kemampuan menabung dari masyarakat menengah bawah menjadi semakin berkurang.
Keempat, inflasi yang tinggi memaksa bank sentral membuat kebijakan moneter yang lebih ketat dengan menaikkan suku bunga acuan. Tujuannya sangat jelas yaitu untuk mengurangi jumlah aliran likuiditas di pasar, sehingga harga-harga barang maupun jasa bisa dikendalikan dan nilai tukar tidak megalami volatilitas yang berlebihan. Inflasi yang terus meroket perlu dihentikan segera dengan kebijakan moneter ketat, karena kebijakan inilah yang diangggap paling efektif untuk menahan kenaikan harga barang.
Kelima, kebijakan moneter yang bersifat tight monetary policy tersebut memberikan dampak turunan yang sangat besar di pasar uang maupun pasar modal. Imbal hasil dari kupon surat berharga yang dinyatakan dalam persentase tertentu menjadi berkurang nilainya, sehingga imbal hasil yang diterima oleh investor secara riil mengalami penurunan. Demikian halnya dengan dividen dari saham juga akan mengalami penurunan nilainya secara riil akibat inflasi yang tinggi.
Keenam, kebijakan moneter yang bersifat tight monetary policy dengan menaikkan suku bunga acuan dari bank sentral, memiliki efek domino terhadap kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga kredit tersebut akan dibebankan oleh bank dan perusahaan pembiayaan kepada calon peminjam, sehingga peminjam mendapatkan cost of borrowing yang semakin tinggi. Tentunya kondisi ini akan memengaruhi permintaan kredit yang dibutuhkan untuk keperluan modal kerja maupun investasi dan ekspansi bisnis. Berkurangnya permintaan kredit tentunya akan menurunkan keuntungan bank, mengingat pendapatan bunga kredit selama ini menjadi kontributor utama pendapatan bank.
Kondisi ekonomi global ke depan menghadapi persoalan yang lebih serius dengan munculnya ancaman stagflasi yang bisa terjadi dalam waktu dekat. Laju inflasi yang sangat tinggi di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Pelajaran dari Negara Lain
Beberapa negara telah merasakan seberapa besar dampak inflasi yang tinggi terhadap kondisi ekonomi negara tersebut, dan salah satunya adalah Sri Lanka. Inflasi di negara tersebut secara konsisten mengalami kenaikan yang sulit untuk dikendalikan, dan terakhir pada Juni 2022 mencapai angka 54,6% (yoy). Pada bulan Mei 2022 inflasinya masih di angka 29,8%, sehingga tidaklah mengherankan kenaikan inflasi tersebut telah menjadikan krisis ekonomi di negara tersebut berubah menjadi krisis politik.
Mengutip dari laporan Global Crisis Response Group (Juni 2022), banyak negara yang mengalami kerentanan ekonomi akibat kenaikan harga energi dan pangan. Oleh sebab itu, bukanlah sesuatu yang mustahil krisis yang terjadi di Sri Lanka tersebut juga berpotensi dialami oleh negara-negara rentan lainnya, seperti Afganistan, Pakistan, Laos, Myanmar, dan negara-negara lainnya.
Di sinilah kita mendapatkan suatu pelajaran berharga bahwa krisis ekonomi yang berkelanjutan sebagai akibat melambungnya angka inflasi bisa memiliki efek domino ke negara-negara lain. Kondisi ekonomi global ke depan menghadapi persoalan yang lebih serius dengan munculnya ancaman stagflasi yang bisa terjadi dalam waktu dekat. Laju inflasi yang sangat tinggi di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi global yang pesat setelah meredanya pandemi Covid-19 ternyata tidak bisa dipertahankan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Untuk mengatasi permasalahan inflasi dan bahkan stagflasi dibutuhkan upaya bersama dari semua negara. Di sinilah kita melihat bagaimana pentingnya peran dari negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok G7 maupun negara-negara anggota G20, dalam memberikan solusi terbaik guna mengatasi persoalan ekonomi global.
*) Kepala OJK Institute. (Artikel ini merupakan pandangan pribadi dari penulis).
Editor: Totok Subagyo
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






