Proses Bisnis Pengembangan Lapangan di Hulu Migas
Salah satu cara agar perusahaan menjadi baik dan mampu menghadapi persaingan global adalah dengan membuat bisnis proses yang efektif, efisien dan akuntabel. Banyak perusahaan punya visi menjadi perusahaan kelas dunia tapi proses bisnis yang mereka jalani masih primitif, rumit dan sangat panjang.
Proses bisnis adalah salah satu dari tiga pilar dalam mentransformasi sebuah perusahaan. Dua pilar yang lain adalah teknologi dan sumber daya manusia (SDM). Proses bisnis yang baik tidak akan berjalan secara efektif dan efisien kalau tidak ditunjang oleh teknologi yang tepat guna. Lebih jauh, proses bisnis yang baik dan telah ditunjang oleh teknologi tepat guna tapi tidak punya SDM yang kompeten, maka hasilnya juga tidak akan optimal. Tiga pilar itu harus sejalan dan seiring untuk diperbaiki.
Dalam tulisan ini kita akan membahas proses bisnis dalam pengembangan lapangan di perusahaan yang bergerak di bidang hulu minyak dan gas (migas). Proses bisnis ini bisa juga dinamakan dengan Life-Cycle Phase (LCP). Dalam kesempatan lain akan kita bahas LCP untuk perusahaan midstream, Insyaa Allah.
Perusahaan yang mengelola sumur migas dikategorikan sebagai perusahaan hulu, sedangkan perusahaan yang mengolah minyak mentah menjadi BBM, misalnya, dikategorikan sebagai perusahaan hilir. Perusahaan yang mengantarkan migas dari hulu ke hilir atau dari hilir ke pelanggan lewat pipa atau moda transportasi lainnya dikategorikan sebagai perusahaan midstream.
Exxon, Chevron dan BP bisa dikategorikan sebagai perusahaan hulu dan hilir karena mereka memiliki lapangan minyak dan kilang pengolahan (refinery). PGN bisa dikategorikan sebagai perusahaan midstream karena mengelola pipa yang mengantarkan migas di Indonesia.
Apakah proses bisnis untuk investasi proyek besar (major capital investment) di hulu, hilir dan midstream punya kesamaan atau malah berbeda sama sekali? Kalau kita telaah lebih dalam, prinsip dasar proses bisnisnya hampir sama.
Salah satu kunci dalam implementasi proses bisnis yang harus dilalui perusahaan hulu migas adalah bukan dengan menghilangkan beberapa fase tapi mempercepat pengerjaan setiap aktivitas. Time is the essence.
Ada empat proses yang harus selalu ada: feasibility study (FS), Front End Engineering Design (FEED), Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI), dan yang terakhir abandonment. Namun karena bisnis hulu, hilir dan midstream menghasilkan produk yang berbeda, maka beberapa step dalam bisnis prosesnya harus disesuaikan dengan karakteristik bisnisnya.
Untuk perusahaan hulu migas, proses bisnis dimulai dari mengakuisisi lapangan migas atau disebut juga dengan fase Acquire. Di fase ini perusahaan hulu akan melakukan assessment terhadap opportunity yang ada. Dilanjutkan dengan mempelajari terms and conditions, termasuk aturan perpajakan dan fiskalnya. Selanjutnya menyiapkan bid document terhadap lapangan migas yang akan diakuisisi.
Setelah lapangan migas berhasil diakuisisi, proses bisnis selanjutnya adalah melakukan eksplorasi untuk mengkaji apakah lapangan ini punya hydrocarbon atau tidak. Fase ini dinamakan dengan fase Explore. Aktivitas utama dalam fase ini di antaranya melakukan studi geologi, geofisika dan reservoir, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan exploratory drilling.
Kalau lapangan migas ini menemukan hydrocarbon yang ekonomis untuk dikembangkan (discovery) maka proses bisnis berlanjut ke fase Appraise. Beberapa aktivitas utama di sini antara lain melakukan appraisal drilling, memperkirakan reserves, merencanakan development options, menentukan production rate dan memilih teknologi yang tepat.
Dengan telah dilakukanya fase Appraise yang menyatakan reserve migas ekonomis untuk dikembangkan, maka bisnis proses berlanjut ke fase Select. Dalam fase ini aktivitas utamanya adalah feasibility study (FS) yang mengevaluasi pilihan-pilihan pengembangan dan teknologi, biaya Capex, biaya Opex, dan Internal Rate of Return (IRR).
Risk Assessment juga sudah mulai dilakukan pada fase ini sehingga risk profile bisa teridentifikasi sedini mungkin. Feasibility Study bisa juga disebut dengan Concept Selection atau Pre-FEED.
Setelah fase Select selesai, fase selanjutnya adalah finalisasi development options atau disebut dengan fase Define. Aktivitas utama dalam fase ini di antaranya menyiapkan design basis, melakukan FEED, merancang contracting strategy dan menyiapkan dokumen penawaran untuk EPCI (Engineering, Procurement, Construction, Installation).
Milestone utama dalam fase Select adalah certification of reserves. Semua hasil dari fase ini menjadi bahan untuk mengajukan Final Investment Decision (FID).
Kalau FID disetujui oleh pemegang saham atau yang mewakili, maka fase Execute dimulai. Fase ini ditandai dengan contract award untuk kegiatan EPCI. Aktivitas utama dalam fase ini di antaranya melakukan kegiatan detail engineering, procurement, construction, installation dan dilanjutkan dengan development drilling. Akhir dari fase ini ditandai dengan first oil, yang artinya produksi dimulai.
Setelah lapangan berproduksi, fase selanjutnya adalah fase Operate. Aktivitas utama dalam fase ini di antaranya melakukan operation dan maintenance, workover well dan pengembangan sumur baru. Milestone dari fase ini setelah beroperasi sekian tahun adalah produksi tidak lagi ekonomis untuk dilanjutkan (last production).
Akhir dari semua fase ini dinamakan dengan fase Abandon. Aktivitas utama dari fase ini di antaranya adalah evaluasi abandonment options, menghitung biaya abandonment, evaluasi environmental impact, plug & abandon well dan diakhiri dengan decommissioning fasilitas yang ada.
Inilah karakteristik proses bisnis yang harus dilalui perusahaan hulu migas di dunia. Setiap fase ada aktivitas utama yang secara disiplin harus dipatuhi agar risiko-risiko yang ada dapat dimitigasi dengan tepat. Perusahaan yang menempuh jalan singkat (short cut) dengan melanggar beberapa proses bisnis, sering kali mengalami kerugian akibat tidak punya data yang cukup.
Apakah proses bisnis di atas terlalu panjang sehingga memakan waktu lama untuk memulai produksi? Sebenarnya bukan proses panjangnya yang menjadi tantangan. Tetapi seberapa efektif dan efisien kita mengerjakan aktivitas di setiap fase tersebut. Untuk itu, salah satu kunci dalam implementasi proses bisnis yang harus dilalui perusahaan hulu migas adalah bukan dengan menghilangkan beberapa fase tapi mempercepat pengerjaan setiap aktivitas. Time is the essence.
*) Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Editor: Totok Subagyo
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Jadi Destinasi Favorit Libur Paskah, 30 Ribu Pengunjung Padati Kawasan Ancol
Kawasan Ancol jadi destinasi favorit masyarakat untuk mengisi libur panjang akhir pekan. Diperkirakan ada 30 ribu pengunjung datang hari iniWOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihTag Terpopuler
Terpopuler

