Ekonom Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2022 di Kisaran 4-4,5%
JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 diperkirakan berada di kisaran 4-4,5%. Angka perkiraan ini masih bergantung pada kondisi mobilitas masyarakat di masa pemberlakuan PPKM oleh pemerintah sejak Februari sampai akhir Maret 2022.
“Sampai minggu pertama Maret 2022 (PPKM) ini juga masih berlaku. Jadi saya lihat sebelumnya, kami prediksi bisa di atas 4% sampai 4,5%. Tetapi kelihatannya ada beberapa hal yang harus dilihat lagi, seperti perkembangan eksternal, cepat sekali termasuk komoditas,” ucap Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual saat dihubungi belum lama ini.
Dari kondisi eksternal, lanjut dia, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan di 2022 ini. Adapun pasar memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuannya hingga lima kali. Namun, menurut David, Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan empat kali di 2022.
“Saya pikir mereka tidak akan terlalu agresif seperti ekspektasi pasar, tidak akan sebanyak itu, saya lihat 4 kali untuk tahun ini. Tadinya juga di 15 Maret 2022 ini banyak yang ekspektasi ada kenaikan 50 basis poin. Saya kira maksimum 25 basis poin untuk memberikan concern Fed terhadap kenaikan inflasi yang tinggi di AS,” kata David.
Mengenai dampak dari perang Rusia-Ukraina, David mengatakan, pemerintah harus melakukan sejumlah kebijakan khusus mengantisipasi kenaikan harga atau inflasi terhadap bahan pangan, seiring kedua negara ini merupakan penghasil komoditas yaitu gas dan gandum. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan mitigasi terhadap masyarakat yang paling terdampak untuk daya belinya.“Saya pikir kemampuan fiskal kita terbatas, bantuan diberikan bukan terhadap objek, namun dari sisi subjek. Jadi perlu diberikan ke orang yang lebih membutuhkan,” ucap David.
Saat ini pemerintah sudah memiliki Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pemerintah bisa memberikan bansos untuk penduduk yang termasuk dalam DTKS. Sebab, bila pemerintah memberikan subsidi berdasarkan produk akan terjadi distorsi. “Karena kalau barang akan ada distorsi ke mereka-mereka yang sebenarnya membutuhkan, dan ini akan membuat disparitas harga,” kata David.
Di sisi lain, Asisten Deputi Moneter dan Sektor Eksternal Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, momentu pemulihan ekonomi yang terjadi sejak 2021 harus dipertahankan. “Target pemerintah di kuartal I-2022 bisa di kisaran 4-5%, upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan yang sudah mulai terlihat,“ ucap Ferry.
Pemerintah menganggarkan Rp 455,62 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2022. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong keberlanjutan pemulihan ekonomi di kuartal I-2022.
Berbagai insentif telah dilanjutkan, antara lain insentif fiskal PPN DTP Perumahan, PPnBM DTP Kendaraan Bermotor Roda 4, Perluasan Program BT-PKLWN dan Subsidi Bunga KUR. Dukungan insentif lainnya juga akan segera dikeluarkan sebagai bagian dari program PEN untuk menstimulus aktivitas ekonomi di 2022.
Ferry mengatakan, pemerintah melakukan strategi belanja pemerintah secara front loading agar bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dari sisi fiskal pemerintah memberikan insentif pajak pertambahan nilai untuk sektor otomotif dan properti. “Dua sektor ini memberikan efek pengganda besar dan bisa menjaga momentum pertumbuhan kuartal I 2022,” ucap Ferry.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

