Minyak Rebound, Kembali di Atas US$ 100/Barel
NEW YORK, Investor.id – Harga minyak rebound, melonjak 8% pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Pasar khawatir kekurangan pasokan dalam beberapa minggu mendatang akibat sanksi terhadap Rusia.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik US$ 8,62 atau 8,79% menjadi US$ 106,64 per barel, persentase kenaikan terbesar sejak pertengahan 2020.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Aprilmenguat US$ 7,94 atau 8,35% menjadiUS$ 102,98 per barel.
Harga patokan minyak dalam beberapa pekan terakhir telah mengalami periode paling bergejolak sejak pertengahan 2020. Setelah sempat merosot karena pembeli merealisasikan keuntungan dan kemudian harga naik kembali di tengah ekspektasi bahwa kekurangan pasokan minyak akan segera menekan pasar energi.
Dalam pekan ini, minyak Brent per barel telah diperdagangkan setinggi US$ 139 dan terendah US$ 98 per barel - spread lebih dari US$ 40 . Itu telah mendorong banyak investor untuk keluar, menciptakan kondisi untuk perubahan harga yang lebih liar di minggu-minggu mendatang, kata para pedagang, bankir dan analis.
Embargo Minyak Rusia
Banyak negara telah melarang pembelian minyak Rusia untuk menghukum Moskow atas invasinya ke Ukraina hampir tiga minggu lalu. Rusia yang menyebut aksi militer itu sebagai "operasi militer khusus", adalah pengekspor minyak mentah dan produk bahan bakar terbesar di dunia. Penyuling dan pengguna akhir harus membuat penyesuaian cepat untuk minggu-minggu mendatang.
"Ada kekhawatiran baru di pasar bahwa kita bisa kehilangan lebih banyak minyak Rusia," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.
Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan 3 juta barel per hari (bph) minyak dan produk Rusia dapat ditutup mulai bulan depan. Kehilangan pasokan itu akan jauh lebih besar dari perkiraan penurunan permintaan sebesar 1 juta barel per hari dari harga bahan bakar yang lebih tinggi, kata IEA.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pasokan energi dari Rusia akan tetap stabil meskipun apa yang dia gambarkan sebagai situasi geopolitik yang tegang, kantor berita Interfax melaporkan.
Morgan Stanley menaikkan perkiraan harga Brent sebesar US$ 20 untuk kuartal ketiga menjadi US$ 120 per barel, memprediksi penurunan produksi Rusia sekitar 1 juta barel per hari mulai April.
Tekanan pasokan akan lebih dari mengimbangi revisi permintaan global yang turun sekitar 600.000 barel per hari karena kekhawatiran tentang permintaan setelah lonjakan kasus virus corona di China.
Pasar minyak sebagian besar mengabaikan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS sebesar seperempat poin persentase pada Rabu (16/3/2022).
Sentimen cerah setelah China menjanjikan kebijakan untuk mendorong pasar keuangan dan pertumbuhan ekonomi, sementara penurunan kasus COVID-19 baru di sana mendorong harapan penguncian akan dicabut dan pabrik akan melanjutkan produksi.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






