Jumat, 15 Mei 2026

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 2022 di Kisaran 4,5% hingga 5,3%

Penulis : Arnoldus Kristianus
15 Jun 2022 | 11:50 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6/2022). (Ist)
Gubernur Bank Indonesia Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6/2022). (Ist)

JAKARTA, investor.id -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 diperkirakan akan berada pada kisaran 4,5% sampai 5,3%. Sedangkan di tahun 2023 pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 4,7% sampai 5,5%.

“Sehinga Indonesia kembali pada pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Dukungannya tidak hanya dari konsumsi domestik karena mobilitas yang terus meningkat tetapi juga dari ekspor, investasi, stimulus fiskal dan moneter,” ucap Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6).

Dia menuturkan dari sisi eksternal terdapat sejumlah indikator positif. Beberapa di antaranya adalah surplus transaksi berjalan sebesar US$ 0,2 miliar atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2022 dan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2022 sebesar US$ 135,6 miliar.

“Sehingga kondisi eksternal kita cukup kuat baik tahun ini maupun tahun depan termasuk juga stabilitas nilai tukar rupiah. Tentu saja inflasi kita perkirakan memang masih terkendali dan kisaran target 3% + 1 tahun ini dan tahun depan,” ucap Perry.

ADVERTISEMENT

Indikator perbankan juga positif yaitu capital adequacy ratio (CAR) tinggi 24%, non performing loan (NPL) rendah dan kredit perbankan terus meningkat. Perry mengatakan dengan sejumlah indikator positif ini perekonomian domestik bisa terus meningkat.

“Dalam jangka panjang kita kembali kepada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menuju Indonesia Maju,” ucap Perry.

Namun, BI juga tetap memantau risiko terhadap perekonomian domestik. Misalnya antisipasi dan respons risiko mengenai kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. BI memperkirakan bank sentral AS akan meningkatkan suku bunga acuan 250 basis poin menjadi 2,75%. Di tahun 2023 suku bunga acuan Amerika Serikat diperkirakan meningkat 50 basis poin menjadi 3,25%.

Yield treasury tahun ini naik menjadi 3,3% tahun depan turun menjadi 2,9% itu adalah resiko global,” kata Perry.

Lima Instrumen

BI menjalankan lima instrumen untuk menjaga kestabilan perekonomian dalam negeri yaitu moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta kebijakan ekonomi dan keuangan syariah.

“Dari sisi kebijakan moneter BI belum menaikkan suku bunga acuan, namun sudah melakukan normalisasi melalui penyerapan likuiditas, yaitu dengan menaikan Giro Wajib Minimum (GWM),” ujar dia.

BI akan menaikkan GWM secara bertahap dari saat ini sebesar 5% naik menjadi 6% mulai 1 Juni 2022, kemudian 7,5% mulai 1 Juli 2022, dan 9% mulai 1 September 2022. Upaya ini dilakukan dengan tetap menjaga kemampuan perbankan menyalurkan kredit dan pembiayaan SBN.

“Karena likuiditas di perbankan sangat longgar, dua tahun terakhir BI menambah likuiditas quantitative easing sangat besar. Indikatornya AL/DPK saat ini 29% akan menurun dengan kenaikan GWM menjadi 27%. Angka 27% ini masih jauh lebih tinggi AL/DPK sebelum covid yaitu 21%,” ucapnya.

BI juga terus memantau kondisi inflasi agar bisa menjaga kestabilan harga barang dan ekspektasi inflasi terkendali. Pada saat yang sama BI juga tetap mewaspadai perkembangan inflasi ke depan.

“Semoga tidak ada kejutan di global maupun domestik sehingga secara keseluruhan pemulihan ekonomi secara domestik terus berlanjut, stabilitas makroekonomi terjaga, stabilitas keuangan terjaga, inflasi dan nilai tukar terjaga,” ucapnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 17 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 21 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia