BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 2022 di Kisaran 4,5% hingga 5,3%
JAKARTA, investor.id -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 diperkirakan akan berada pada kisaran 4,5% sampai 5,3%. Sedangkan di tahun 2023 pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 4,7% sampai 5,5%.
“Sehinga Indonesia kembali pada pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Dukungannya tidak hanya dari konsumsi domestik karena mobilitas yang terus meningkat tetapi juga dari ekspor, investasi, stimulus fiskal dan moneter,” ucap Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6).
Dia menuturkan dari sisi eksternal terdapat sejumlah indikator positif. Beberapa di antaranya adalah surplus transaksi berjalan sebesar US$ 0,2 miliar atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2022 dan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2022 sebesar US$ 135,6 miliar.
“Sehingga kondisi eksternal kita cukup kuat baik tahun ini maupun tahun depan termasuk juga stabilitas nilai tukar rupiah. Tentu saja inflasi kita perkirakan memang masih terkendali dan kisaran target 3% + 1 tahun ini dan tahun depan,” ucap Perry.
Indikator perbankan juga positif yaitu capital adequacy ratio (CAR) tinggi 24%, non performing loan (NPL) rendah dan kredit perbankan terus meningkat. Perry mengatakan dengan sejumlah indikator positif ini perekonomian domestik bisa terus meningkat.
“Dalam jangka panjang kita kembali kepada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menuju Indonesia Maju,” ucap Perry.
Namun, BI juga tetap memantau risiko terhadap perekonomian domestik. Misalnya antisipasi dan respons risiko mengenai kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. BI memperkirakan bank sentral AS akan meningkatkan suku bunga acuan 250 basis poin menjadi 2,75%. Di tahun 2023 suku bunga acuan Amerika Serikat diperkirakan meningkat 50 basis poin menjadi 3,25%.
“Yield treasury tahun ini naik menjadi 3,3% tahun depan turun menjadi 2,9% itu adalah resiko global,” kata Perry.
Lima Instrumen
BI menjalankan lima instrumen untuk menjaga kestabilan perekonomian dalam negeri yaitu moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta kebijakan ekonomi dan keuangan syariah.
“Dari sisi kebijakan moneter BI belum menaikkan suku bunga acuan, namun sudah melakukan normalisasi melalui penyerapan likuiditas, yaitu dengan menaikan Giro Wajib Minimum (GWM),” ujar dia.
BI akan menaikkan GWM secara bertahap dari saat ini sebesar 5% naik menjadi 6% mulai 1 Juni 2022, kemudian 7,5% mulai 1 Juli 2022, dan 9% mulai 1 September 2022. Upaya ini dilakukan dengan tetap menjaga kemampuan perbankan menyalurkan kredit dan pembiayaan SBN.
“Karena likuiditas di perbankan sangat longgar, dua tahun terakhir BI menambah likuiditas quantitative easing sangat besar. Indikatornya AL/DPK saat ini 29% akan menurun dengan kenaikan GWM menjadi 27%. Angka 27% ini masih jauh lebih tinggi AL/DPK sebelum covid yaitu 21%,” ucapnya.
BI juga terus memantau kondisi inflasi agar bisa menjaga kestabilan harga barang dan ekspektasi inflasi terkendali. Pada saat yang sama BI juga tetap mewaspadai perkembangan inflasi ke depan.
“Semoga tidak ada kejutan di global maupun domestik sehingga secara keseluruhan pemulihan ekonomi secara domestik terus berlanjut, stabilitas makroekonomi terjaga, stabilitas keuangan terjaga, inflasi dan nilai tukar terjaga,” ucapnya.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






